Tuesday, August 07, 2018

27 Amalan Sunnah Rasulullah yang Mudah Untuk Dikerjakan


Sebagai seorang muslim, tentu kita akan menjalankan segala kewajipan kepada Allah. Seperti misalnya sholat, membayar zakat, berpuasa Ramadhan, dan haji jika kita mampu melakukannya. Semua kewajiban itu harus kita laksanakan kerana merupakan perintah dari Allah S.W.T.


Selain ibadah ada perintah yang wajib dilakukan, ternyata kita juga harus menambahnya dengan amalan sunnah yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam . Amalan sunnah ini nantinya akan menambah kebaikan di akhirat kelak.
Ada banyak amalan sunnah yang masih sering terlupa oleh kita . Berikut ini ada beberapa amalan yang boleh kita lakukan sedikit demi sedikit, agar nantinya menjadi kebiasaan dan kita menjadi ringan mengerjakannya.

1. Memelihara Wudhu


chanelmuslim.com

Menjaga wudhu merupakan sunnah yang terlihat mudah tapi sukar untuk dipraktikkan . Kadang ada rasa malas ketika wudhu sudah batal dan harus pergi untuk berwudhu lagi. Padahal, menjaga wudhu merupakan sunnah yang begitu baik.
Seperti dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Tsauban Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Istiqamahlah (konsistenlah) kalian semua (dalam menjalankan perintah Allah) dan kalian tidak akan pernah dapat menghitung pahala yang akan Allah berikan. Ketahuilah bahwa sebaik-baik perbuatan adalah shalat, dan tidak ada yang selalu memelihara wudhunya kecuali seorang mukmin.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

2. Mendahulukan Kaki Kanan Saat Memakai Selipar dan Melepasnya dari Kaki Kiri

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Jika kalian memakai sandal maka dahulukanlah kaki kanan, dan jika melepaskannya, maka dahulukanlah kaki kiri. Jika memakainya maka hendaklah memakai keduanya atau tidak memakai keduanya sama sekali.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Kita kadang-2 lupa ketika sedang terburu-buru dan harus memakai atau melepas selipar. Sangat terburu-burunya, kita memakai selipar dengan mendahulukan kaki kiri dan melepasnya dari kaki kanan. Padahal kalau mengikuti apa yang dicontohkan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, memakai seliparl itu kanan dulu, dan melepasnya didahulukan kaki kiri.

3. Sebelum Tidur Berwudhu Terlebih Dahulu dan Tidur menghadap ke Kanan


selo-aji.blogspot.co.id

Ada sebuah hadits yang diriwayatkan dari Al-Barra’ bin Azib Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Jika kamu hendak tidur, maka berwudhulah seperti hendak shalat, kemudian tidurlah dengan posisi miring ke kanan dan bacalah, ‘Ya Allah, Aku pasrahkan jiwa ragaku kepada-Mu, aku serahkan semua urusanku kepada-Mu, aku lindungkan punggungku kepada-Mu, karena cinta sekaligus takut kepada-Mu, tiada tempat berlindung mencari keselamatan dari (murka)-Mu kecuali kepada-Mu, aku beriman dengan kitab yang Engkau turunkan dan dengan nabi yang Engkau utus’. Jika engkau meninggal, maka engkau meninggal dalam keadaan fitrah. Dan usahakanlah doa ini sebagai akhir perkataanmu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Kalau kita membiasakan sunnah yang satu ini, tentu tidur akan menjadi lebih nyaman. Selain kita tidur dalam keadaan suci, semua hal yang ada sudah kita pasrahkan kepada Allah.
Waktu tidur pun kita juga bisa mempraktekkan posisi tidur dengan hadap ke kanan. Jadi kita bertumpu pada tubuh bagian kanan. Posisi ini sangat baik untuk jantung, kerana jantung tidak akan tertekan jika kita memiringkan posisi ke kanan.

4. Bersiwak


islamkingdom.com

Bersiwak itu seperti gosok gigi, bedanya kalau bersiwak itu menggunakan kayu yang disebut siwak. Ada hadits yang menyebutkan masalah bersiwak ini, seperti yang diriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu Anha bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Siwak dapat membersihkan mulut dan sarana untuk mendapatkan ridha Allah.” (HR. Ahmad dan An-Nasa`i)
Selain hadits di atas, ada satu hadits lain yang juga menyebutkan tentang bersiwak.
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam juga bersabda, “Andaikata tidak memberatkan umatku niscaya aku memerintahkan mereka untuk bersiwak setiap kali hendak shalat.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Kita disunnahkan untuk bersiwak setiap saat, terutama ketika akan berwudhu, shalat, membaca Al-Qur’an, atau saat bau mulut tidak sedap. Bersiwak ini juga dianjurkan baik saat kita puasa atau tidak, pagi maupun sore, setelah bangun tidur, dan saat hendak memasuki rumah.

5. Berkumur-Kumur dan Menghirup Air dengan Hidung Dalam Satu Cidukan Telapak Tangan Ketika Berwudhu

Diriwayatkan dari Abdullah bin Zaid Radhiyallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkumur-kumur dan menghirup air dengan hidung secara bersamaan dari satu ciduk air dan itu dilakukan sebanyak tiga kali. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Sunnah yang satu ini dilakukan ketika kita sedang berwudhu saat berkumur. Kalau biasanya kita memisahkan antara berkumur dan menghirup air ke dalam hidung dan mengeluarkannya kembali, ternyata ada sunnah untuk melakukan dua hal itu secara bersamaan.
Kamu cukup mengambil air menggunakan dua telapak tangan yang disatukan, kemudian lakukan bersama antara berkumur dan menghirup air ke dalam hidung. Pertama memang sulit dilakukan, tapi jika sudah biasa maka akan menjadi mudah.

6. Berlumba-Lumba Untuk Mengumandangkan Adzan

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Andaikata umat manusia mengetahui pahala di balik adzan dan berdiri pada shaf pertama kemudian mereka tidak mendapatkan bagian kecuali harus mengadakan undian terlebih dahulu niscaya mereka membuat undian itu. Andaikata mereka mengetahui pahala bergegas menuju masjid untuk melakukan shalat, niscaya mereka akan berlomba-lomba melakukannya. Andaikata mereka mengetahui pahala shalat isya dan subuh secara berjamaah, niscaya mereka datang meskipun dengan merangkak.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Seperti yang disebutkan dalam hadits di atas, jika kita berlomba untuk mengumandangkan adzan, maka sungguh pahala yang akan didapatkan sangatlah besar. Selain itu, adzan kan juga mengajak orang untuk segera bergegas ke masjid, pastilah kita juga mengajak orang untuk melakukan kebaikan.

7. Bersegera Menuju Shalat


penerbitlayar.com

Seperti yang disebutkan dalam hadits di poin nomor 6, bersegera ke masjid juga merupakan sunnah yang sangat baik kita kerjakan. Jika ternyata kita nggak kebagian buat mengumandangkan adzannya, minimal kita tidak terlambat shalat dan ketingalan takbiratul ihram.

8. Berdiri di Shaf Pertama

Dalam hadits pada poin nomor 6 juga disebutkan tentang sholat di shaf pertama. Jika kita tahu seberapa besar pahala yang akan kita dapatkan, tentu tak akan menyia-nyiakan waktu untuk bersegera menempati shaf pertama dalam shalat berjamaah di masjid.

9. Mengikuti Bacaan Muadzin

Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr Radhiyallahu Anhu bahwa dia mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Jika kalian mendengar adzan, maka ucapkanlah seperti yang diucapkan oleh muadzin, kemudian bershalawatlah kepadaku. Barangsiapa yang bershalawat kepadaku, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali. Kemudian mintakan wasilah untukku, karena wasilah merupakan tempat di surga yang tidak layak kecuali bagi seorang hamba Allah dan aku berharap agar akulah yang mendapatkannya. Barangsiapa yang memintakan wasilah untukku maka ia akan mendapatkan syafaatku (di akhirat kelak).” (HR. Muslim)
Sunnah yang satu ini mungkin tidak pernah atau jarang sekali kita lakukan. Apalagi ketika adzan berkumandang, kita sedang sibuk melakukan aktifitas sehingga tidak menghiraukan panggilan untuk sholat itu.

10. Shalat Istikharah

Jika kamu bingung dalam menentukan pilihan, ada satu sunnah yang bisa dilakukan lho, shalat istikharah. Kita memohon kepada Allah untuk ditunjukkan mana pilihan yang terbaik menurut Allah, bukan menurut kita. Seperti yang disebutkan dalam sebuah hadits di bawah ini.
Diriwayatkan dari Jabir Radhiyallahu Anhu bahwa ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengajarkan kepada kita tata cara shalat istikharah untuk segala urusan, sebagaimana beliau mengajarkan surat-surat Al-Qur`an kepada kami.” (HR. Al-Bukhari)

11. Berbuka Puasa dengan Makanan Ringan


khasiat.co.id

Diriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berbuka puasa sebelum shalat maghrib dengan beberapa kurma basah. Jika tidak ada maka dengan beberapa kurma kering. Jika tidak ada, maka beliau hanya meminum beberapa teguk air.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan At-Tirmidzi)
Dalam hadits di atas disebutkan bahwa kita diperintahkan untuk berbuka dengan beberapa kurma basah saja. Kalaupun tidak ada kurma basah, cukup dengan beberapa kurma kering. Jika kurma kering juga tidak ada, cukuplah beberapa teguk air.
Tentu kita bisa memetik pelajaran dari hadits tersebut, bahwa sesungguhnya berbuka puasa itu tidak perlu dengan makanan super mewah dan banyak. Kita tidak membutuhkan makanan yang banyak saat berbuka, kurma beberapa butir saja cukup untuk sekedar mengisi kembali energi yang hilang selama berpuasa.

12. Meruqyah Diri Sendiri dan Keluarga

Ruqyah merupakan salah satu sunnah yang sebaiknya kita lakukan, selain untuk meminta perlindungan kepada Allah, juga untuk meminta kesembuhan. Seperti sebuah hadits yang menceritakan ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sakit.
Diriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu Anha bahwa ia berkata, “Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam senantiasa meruqyah dirinya dengan doa-doa perlindungan ketika sakit, yaitu pada sakit yang menyebabkan wafatnya beliau. Saat beliau kritis, akulah yang meruqyah beliau dengan doa tersebut, lalu aku mengusapkan tangannya ke anggota tubuhnya sendiri, karena tangan itu penuh berkah.” (HR. Al-Bukhari)

13. Mengibaskan Tilam Sebelum Tidur

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,“Jika kalian hendak tidur, maka hendaknya dia mengambil ujung seprainya, lalu mengibaskannya dengan membaca basmallah, karena dia tidak mengetahui apa yang akan terjadi di atas kasurnya. Jika dia hendak merebahkan tubuhnya, maka hendaknya dia mengambil posisi tidur miring ke kanan dan membaca, “Maha Suci Engkau, ya Allah, Rabbku, dengan-Mu aku merebahkan tubuhku, dan dengan-Mu pula aku mengangkatnya. Jika Engkau menahan nyawaku, maka ampunkanlah ia, dan jika Engkau melepasnya, maka lindungilah ia dengan perlindungan-Mu kepada hamba-hamba-Mu yang shalih.” (HR. Muslim)
Mengibaskan tilam saat mau tidur merupakan hal yang sangat jarang kita lakukan. Kalau sudah terasa ngantuk, paling kita langsung merebahkan diri dan tertidur lelap. Padahal dalam hadits di atas, kita tidak tahu apa yang akan terjadi di atas kasur kita.

14. Sujud Syukur Ketika Mendapatkan Nikmat atau Terhindar dari Bencana


fimadani.com

Sujud syukur biasanya akan dilakukan seseorang ketika dia mendapat nikmat dari Allah.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Bakrah Radhiyallahu Anhu ia berkata, “Jika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mendapatkan sesuatu yang menyenangkan atau disampaikan kabar gembira maka beliau langsung sujud dalam rangka bersyukur kepada Allah.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

15. Berdoa Ketika Memakai Pakaian Baru

Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu Anhu ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam jika mengenakan pakaian baru, maka beliau menamai pakaian itu dengan namanya, baik itu baju, surban, selendang ataupun jubah, kemudian beliau membaca, “Ya Allah, hanya milik-Mu semua pujian itu, Engkau telah memberiku pakaian, maka aku mohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan tujuannya dibuat, dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya dan keburukan tujuannya dibuat.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)
Hal lain yang kadang kita lupa untuk melakukannya adalah berdia ketika memakai pakaian yang baru. Mungkin karena hal ini jarang kita lakukan dan doa-nya pun belum hafal.

16. Tidak terburu-buru dan Segera Tidur Selesai Shalat Isya`

Dalam hadits shahih dinyatakan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak suka tidur sebelum shalat isya` dan tidak suka terburu-buru setelah shalat isya`.
Tapi, ketika kita ada keperluan setelah isya’, maka begadang itu boleh dilakukan. Seperti kata Bang Roma, “begadang boleh saja, kalau ada perlunya”. Biar nanti ketika bangun, kita tidak kesiangan sehingga shalat subuhnya pun terlambat.

17. Meminta Izin Tiga Kali Ketika Bertamu

Bertamu itu juga ada adab-nya, tidak boleh kita sembarangan bertamu dan masuk rumah tanpa izin dari pemilik rumah. Ketika bertamu, kita hanya dibolehkan sebanyak tiga kali untuk meminta izin, atau mengetuk pintu. Jika lebih dari itu, maka lebih baik kita pulang, sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits.
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Adab meminta izin itu hanya tiga kali, jika tidak diizinkan maka seseorang harus pulang.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Bahkan, ada juga lho ayat Al-Qur’an yang mengatur perihal bertamu ini. Allah Ta’ala berfirman, “Dan jika dikatakan kepadamu, “Kembalilah!” Maka (hendaklah) kamu kembali. Itu lebih suci bagimu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. An-Nuur: 28)

18. Berwudhu Sebelum Mandi Besar (Mandi Junub)

Sebelum mandi besar, kita juga disunnahkan untuk berwudhu terlebih dahulu, seperti yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam.
Diriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu Anhu, “Jika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ingin mandi besar, maka beliau membasuh tangannya terlebih dahulu, lalu berwudhu seperti hendak shalat, kemudian memasukkan jemarinya ke airdan membasuh rambutnya dengan air. Selanjutnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menuangkan air tiga ciduk ke kepalanya dengan menggunakan tangannya, lalu mengguyur semua bagian tubuhnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

19. Mengucapkan Salam Kepada Semua Orang Islam Termasuk Anak Kecil

Mengucapkan salam merupakan satu sunnah yang sebenarnya mudah dilakukan, tapi sulit dipraktekkan. Kita sering melewati seseorang dan biasanya enggan untuk mengucap salam. Entah karena sedang terburu-buru ataupun karena malu.
Diriwayatkan dari Abdullah bin Amru Radhiyallahu Anhu, ia menceritakan, ”Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, ‘Apa ciri keislaman seseorang yang paling baik?’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjawab, ‘Kamu memberikan makanan (kepada orang yang membutuhkan) dan mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan orang yang tidak kamu kenal.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Selain itu, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam juga mencontohkan untuk memberikan salam sekalipun kepada anak kecil.
Diriwayatkan dari Anas Radhiyallahu Anhu bahwa ia menuturkan, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berjalan melewati kumpulan anak-anak, lalu beliau mengucapkan salam kepada mereka semua.” (HR. Muslim)

20. Membuat Pembatas Ketika Sedang Shalat


youtube.com

Ketika kita sedang melaksanakan ibadah sholat, baik itu fardu maupun sunnah, hendaklah membuat pembatas di depan kita. Bisa menggunakan tas, jaket, atau mungkin mendekat ke tiang ataupun tembok. Seperti sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah.
Diriwayatkan dari Abu Said al-Kudri Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Ketika kalian hendak shalat, maka buatlah pembatas di depannya dan majulah sedikit, dan janganlah membiarkan seseorang lewat di depannya. Jika ada orang yang sengaja lewat di depannya, maka hendaknya dia menghalanginya karena orang itu adalah setan.” (HR. Abu dawud dan Ibnu Majah)

21. Membaca Amin dengan Suara Keras Ketika Menjadi Makmum

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Jika imam membaca “Amin” maka kalian juga harus membaca “Amin” karena barangsiapa yang bacaan Amin-nya bersamaan dengan bacaan malaikat maka diampunkan dosa-dosanya yang telah berlalu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Setelah imam selesai membaca surah Al-Fatikah dan membaca amin, kita sebagai makmum juga disunnahkan membaca amin dengan suara yang keras. Bukan cuma menggerakkan bibir untuk formalitas saja, atau bahkan di dalam hati.

22. Mengeraskan Suara Ketika Membaca Zikir Setelah Shalat


wikimedia.org

Di dalam kitab Shahih Al-Bukhari disebutkan, “Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma mengatakan, mengeraskan suara dalam berzikir setelah orang-orang selesai melaksanakan shalat wajib telah ada sejak zaman Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Ibnu Abbas juga mengatakan, “Aku mengetahui orang-orang telah selesai melaksanakan shalat karena mendengar zikir mereka.” (HR. Al-Bukhari)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Disunnahkan mengeraskan suara saat membaca tasbih, tahmid dan takbir setelah shalat.”
Dari kedua hadits di atas, kita jadi tahu bahwa mengeraskan bacaan dzikir setelah shalat itu sunnah. Tapi membacanya sendiri-sendiri, bukan satu komando. Adapun jika kita membaca tasbih, tahmid, dan takbir dipimpin oleh imam, hal ini terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama.
Ada ulama yang menghukuminya sebagai sunnah secara mutlak, tapi aa juga yang memandang hal tersebut sebagai sunnah dengan syarat tertentu. Bahkan ada juga yang mengatakan bahwa dzikir berjamaan sebagai perbuatan bid’ah.

23. Shalat Dhuha

Selain shalat fardu, masih ada shalat lain yang bisa kita kerjakan, salah satunya adalah shalat dhuha. Shalat ini bisa dikerjakan minimal dua rakaat. Tapi kalau ternyata kamu mampu lebih, maka diperbolehkan sapai 12 rakaat.
Ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Shalat dhuha itu mendatangkan rezeki dan menolak kemiskinan, dan tidak ada yang memelihara shalat kecuali orang-orang bertobat.” (HR. Tirmidzi).

24. Shalat Tahajjud

Jika shalat dhuha merupakan shalat sunnah saat pagi hari, maka pada malam harinya kamu bisa mengerjakan shalat tahajjud.
Seperti sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Sedekat-dekat hamba kepada Allah adalah pada tengah malam terakhir. Apabila engkau bisa termasuk golongan orang berdzikir mengingat Allah ada saat itu, maka lakukanlah.” (HR. Al-Hakim).

25. Shalat Subuh Berjamaah di Masjid


rezekipengusaha.blogspot.co.id

Ada shalat fardu yang berat untuk dilakukan, shalat ini dikerjakan pagi hari ketika kita sedang nyenyak-nyenyaknya tidur. Mau bangun aja kadang berat, apalagi harus berjamaah di masjid. Tapi kalau kamu mengerjakan sunnah ini, akan banyak kebaikan yang terkandung di dalamnya.
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Sungguh, shalat yang paling berat bagi orang munafik, adalah shalat isya dan shalat shubuh. sekiranya mereka mengetahui apa yang terkandung di dalamnya, mereka pasti mendatangani keduanya, sekalipun dengan merangkak.” (HR. Bukhari-Muslim).

26. Membaca dan Mempelajari Al-Qur’an

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam besabda, “Allah berfirman: Barangsiapa disibukkan dengan mengkaji Al-Qur’an dan menyebut nama-Ku, sehingga tidak sempat meminta kepada-KU, maka Aku berikan kepadanya sebaik-baik pemberian yang Aku berikan kepada orang-orang yang meminta. Dan keutamaan kalam Allah atas perkataan lainnya adalah seperti, keutamaan Allah atas makhluk-Nya.” (Riwayat Tirmidzi).
Amalan sunnah ini cukup mudah untuk dilakukan, kamu bisa merutinkan membaca dan mempelajari Al-Qur’an sehabis shalat maghrib. Atau ketika kamu sedang terjebak macet di jalan, nggak ada salahnya untuk membaca kitab suci umat Islam ini.

27. Berdzikir Kepada Allah


menatahidup.com

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Tuhannya dan orang yang tidak berdzikir, seperti orang yg hidup dan orang yg mati.” (HR. Bukhari).
Kita sebagai hamba-Nya sebisa mungkin untuk mengingatnya dimanapun berada. Salah satu cara kita untuk mengingat Allah adalah dengan berdzikir kepada-Nya. Mininimal kita berdzikir setelah selesai melaksanakan shalat fardu. Tapi kalau bisa kita berdzikir dimanapun dan kapanpun kita berada.

Monday, August 06, 2018

Tidak dikatakan seorang beriman kalau tidak diuji



Manusia seperti permata sebagaimana orang bijak katakan sebagai berikut :
Permata tak bisa di poles tanpa gesekan, manusia tak bisa sempurna tanpa ujian
blue-s-the-letter-s-39994115-300-300 SSesungguhnya ujian yang Allah berikan kepada kita, hakikatnya merupakan salah satu sarana untuk mentarbiyah manusia agar menjadi manusia yang beriman, bertauhid dan berilmu.
Sebagaimana orang belajar untuk mendapatkan gelar sarjana atau kenaikan tingkat pendidikan haruslah dilakukan ujian dan harus dimiliki guru pembimbing. Begitu juga dalam proses mendapatkan  Tauhid, iman dan Ilmu Allah. Lalu siapa guru pembimbingnya sudah tentu adalah nabi Muhammad Saw.
Dalam hal ujian, Rasul sendiri menyatakan bahwa proses kenabian yang dijalaninya bersama para nabi-nabi adalah yang terberat.
Suatu hari seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berat cobaannya?” Beliau SAW menjawab: “Para nabi, kemudian orang-orang saleh, kemudian yang sesudah mereka secara berurutan berdasarkan tingkat kesalehannya. Seseorang akan diberikan ujian sesuai dengan kadar agamanya. Bila ia kuat, ditambah cobaan baginya. Kalau ia lemah dalam agamanya, akan diringankan cobaan baginya. Seorang mukmin akan tetap diberi cobaan, sampai ia berjalan di muka bumi ini tanpa dosa sedikit pun.” (HR Bukhari).
Namun demikian  Tuhan meyakinkan bahwa ujian yang diturunkan kepada manusia adalah sesuai dengan kadar kemampuan masing-masing orang. Tuhan mengajarkan untuk menghadapinya dengan menjadikan diri sabar dan shalat sebagai penolong.
Firman Allah : Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”(Albaqarah : 286)
Apakah setelah naik tingkat dan derajat lalu urusan selesai?
Firman Allah: “ Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? (Alankabut :2 )
Naiknya derajat atau tingkatan tersebut bukan berarti urusan selesai, karena hidup ini adalah proses yang terus berlanjut. Semakin tinggi atau derajat seseorang maka semakin tinggi resiko yang akan dihadapinya. Ibarat seseorang dekat dengan raja, maka segala perbuatan dan prilakuanya harus mencerminkan loyalitasnya.
Karena itu harus terus waspada dan menjaga sopan santun kepada rajanya. Sedikit saja menyeleweng atau bersebrangan pendapat akan dinilai raja sebagai sikap yang menentang.
Firman Allah : Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (Albaqarah 214).
Orang yang mencapai tahapan ini akan bersedih jika mendapatkan kemuliaan atau kebaikan dengan berucap istighfar  dan sebaliknya akan bergembira jika musibah datang menemuinya dengan mengucapkan hamdallah. Musibah yang datang akan disikapi dengan suka cita sebagai tetap adanya kasih sayang Allah kepada dirinya dan adanya kesempatan naik tingkat bila dapat melalui ujian musibah itu.
Sesuai Firman Allah :  Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi Jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan. (Ali Imran 120)

5 Bukti Cinta Allah kepada hambaNya





allah1
Bukti cinta Allah kepada hambaNya terdiri dari 5 hal yaitu :
1. Terjaga dari dunia
Di antara cinta Allah kepada hambaNya adalah Dia menjaganya dari dunia dengan tipu daya dan kesenangannya yang melenakan. Dia tidak akan membiarkan dunia memakan dan menguasainya. Dia tidak akan membiarkan hambaNya selama 24 jam hanya melihat dunia. Namun akan berusaha agar hambaNya tidak lepas dari mengingat Allah selama 24 jam itu.
Sabda Nabi Saw: Sesungguhnya Allah akan menjaga hambaNya yang beriman dan Dia mencintainya – kalian hingga kalian takut pada (kematiannya). Dan  Sabda Nabi Saw yang lain : Jagalah Allah, maka Dia akan menjagamu
Firman Allah: Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. (Al Annam : 44)
2. Keshalehan dan pemahaman agama
Bukti kecintaan Allah adalah Allah akan menjadikan hambaNya menjadi hamba yang shaleh. Disamping itu kecintaannya juga diwujudkan dengan pemberian pemahaman agama.
Nabi Saw bersabda:  Allah memberikan dunia pada yang Dia cintai dan yang Dia benci. Tetapi Dia tidak memberikan keasadaran beragama kecuali kepada yang dicintai. Maka barang siapa diberi kesadaran agama oleh Allah, berarti ia dicintai olehNya ( HR Ahmad, Hakim dan Baihaqi)
3. Kelembutan
Diantara tanda kecintaan Allah kepada hambaNya adalah meminjamkan sifat kelembutan itu kepada hambaNya. Dengan ini, Dia akan menjadikan HambaNya sosok yang tenang, tidak emosional, bergejolak karena hal-hal remeh.
Nabi Saw bersabda:  Jika Allah menginginkan kebaikan penghuni satu rumah, maka Dia masukkan kelembutan (HR Ahmad, Hakim dan Tirmidzi)
4. Dimudahkan dalam melakukan ketaatan dan dijauhkan dari kemaksiatan
5. Akhir yang baik (Khusnul Khotimah)
Seseorang yang dicintai Allah akan terus dijaga, agar tidak melenceng jalan hidupnya agar selalu sesuai dengan jalanNya. Bila dirinya melenceng, maka Allah akan mengingatkannya untuk tidak keluar dari jalanNya, begitu seterusnya selalu terjaga hingga akhir hayatnya. Itulah akhir yang manis sebagaimana hadist Nabi Saw sebagai berikut :
Nabi Saw bersabda: Jika Allah mencintai seorang hamba. Dia akan memaniskannya, Sahabat bertanya: Apa itu memaniskannya, ya Rasulullah ? Ia berkata: Dia akan memberikan ia petunjuk untuk melakukan kebaikan saat menjelang ajalnya, sehingga tetangganya akan meridhoinya.
Wallahu a’lam
(Diambil dari buku Tombo ati, Ust Abdurrahman Idrus Lasyarie)

Saturday, October 01, 2016

MUHAMMAD AL-FATIH, PENAKLUK KONSTANTINOPEL



Muhammad al-Fatih adalah salah seorang raja atau sultan Kerajaan Utsmani yang paling terkenal. Ia merupakan sultan ketujuh dalam sejarah Bani Utsmaniah. Al-Fatih adalah gelar yang senantiasa melekat pada namanya karena dialah yang mengakhiri atau menaklukkan Kerajaan Romawi Timur yang telah berkuasa selama 11 abad.

Karakter Pemimpin Yang Ditanamkan Sejak Kecil
Sultan Muhammad al-Fatih memerintah selama 30 tahun. Selain menaklukkan Binzantium, ia juga berhasil menaklukkan wilayah-wilayah di Asia, menyatukan kerajaan-kerajaan Anatolia dan wilayah-wilayah Eropa, dan termasuk jasanya yang paling penting adalah berhasil mengadaptasi menajemen Kerajaan Bizantium yang telah matang ke dalam Kerajaan Utsmani.
Muhammad al-Fatih dilahirkan pada 27 Rajab 835 H/30 Maret 1432 M di Kota Erdine, ibu kota Daulah Utsmaniyah saat itu. Ia adalah putra dari Sultan Murad II yang merupakan raja keenam Daulah Utsmaniyah.
Sultan Murad II memiliki perhatian yang besar terhadap pendidikan anaknya. Ia menempa buah hatinya agar kelak menjadi seorang pemimpin yang baik dan tangguh. Perhatian tersebut terlihat dari Muhammad kecil yang telah menyelesaikan hafalan Alquran 30 juz, mempelajari hadis-hadis, memahami ilmu fikih, belajar matematika, ilmu falak, dan strategi perang. Selain itu, Muhammad juga mempelajari berbagai bahasa, seperti: bahasa Arab, Persia, Latin, dan Yunani. Tidak heran, pada usia 21 tahun Muhammad sangat lancar berbahasa Arab, Turki, Persia, Ibrani, Latin, dan Yunani, luar biasa!
Walaupun usianya baru seumur jagung, sang ayah, Sultan Murad II, mengamanati Sultan Muhammad memimpin suatu daerah dengan bimbingan para ulama. Hal itu dilakukan sang ayah agar anaknya cepat menyadari bahwa dia memiliki tanggung jawab yang besar di kemudian hari. Bimbingan para ulama diharapkan menjadi kompas yang mengarahkan pemikiran anaknya agar sejalan dengan pemahaman Islam yang benar.
Menjadi Penguasa Utsmani
Sultan Muhammad II diangkat menjadi Khalifah Utsmaniyah pada tanggal 5 Muharam 855 H bersamaan dengan 7 Febuari 1451 M. Program besar yang langsung ia canangkan ketika menjabat sebagai khalifah adalah menaklukkan Konstantinopel.
Langkah pertama yang Sultan Muhammad lakukan untuk mewujudkan cita-citanya adalah melakukan kebijakan militer dan politik luar negeri yang strategis. Ia memperbarui perjanjian dan kesepakatan yang telah terjalin dengan negara-negara tetangga dan sekutu-sekutu militernya. Pengaturan ulang perjanjian tersebut bertujuan menghilangkan pengaruh Kerajaan Bizantium Romawi di wilayah-wilayah tetangga Utsmaniah baik secara politis maupun militer.
Menaklukkan Bizantium
Sultan Muhammad II juga menyiapkan lebih dari 4 juta prajurit yang akan mengepung Konstantinopel dari darat. Pada saat mengepung benteng Bizantium banyak pasukan Utsmani yang gugur karena kuatnya pertahanan benteng tersebut. Pengepungan yang berlangsung tidak kurang dari 50 hari itu, benar-benar menguji kesabaran pasukan Utsmani, menguras tenaga, pikiran, dan perbekalan mereka.
Pertahanan yang tangguh dari kerajaan besar Romawi ini terlihat sejak mula. Sebelum musuh mencapai benteng mereka, Bizantium telah memagari laut mereka dengan rantai yang membentang di semenanjung Tanduk Emas. Tidak mungkin bisa menyentuh benteng Bizantium kecuali dengan melintasi rantai tersebut.
Akhirnya Sultan Muhammad menemukan ide yang ia anggap merupakan satu-satunya cara agar bisa melewati pagar tersebut. Ide ini mirip dengan yang dilakukan oleh para pangeran Kiev yang menyerang Bizantium di abad ke-10, para pangeran Kiev menarik kapalnya keluar Selat Bosporus, mengelilingi Galata, dan meluncurkannya kembali di Tanduk Emas, akan tetapi pasukan mereka tetap dikalahkan oleh orang-orang Bizantium Romawi. Sultan Muhammad melakukannya dengan cara yang lebih cerdik lagi, ia menggandeng 70 kapalnya melintasi Galata ke muara setelah meminyaki batang-batang kayu. Hal itu dilakukan dalam waktu yang sangat singkat, tidak sampai satu malam.
Di pagi hari, Bizantium kaget bukan kepalang, mereka sama sekali tidak mengira Sultan Muhammad dan pasukannya menyeberangkan kapal-kapal mereka lewat jalur darat. 70 kapal laut diseberangkan lewat jalur darat yang masih ditumbuhi pohon-pohon besar, menebangi pohon-pohonnya dan menyeberangkan kapal-kapal dalam waktu satu malam adalah suatu kemustahilan menurut mereka, akan tetapi itulah yang terjadi.

Tanduk Emas atau Golden Horn
Tanduk Emas atau Golden Horn, di Istanbul, Turki.

Peperangan dahsyat pun terjadi, benteng yang tak tersentuh sebagai simbol kekuatan Bizantium itu akhirnya diserang oleh orang-orang yang tidak takut akan kematian. Akhirnya kerajaan besar yang berumur 11 abad itu jatuh ke tangan kaum muslimin. Peperangan besar itu mengakibatkan 265.000 pasukan umat Islam gugur. Pada tanggal 20 Jumadil Awal 857 H bersamaan dengan 29 Mei 1453 M, Sultan al-Ghazi Muhammad berhasil memasuki Kota Konstantinopel. Sejak saat itulah ia dikenal dengan nama Sultan Muhammad al-Fatih, penakluk Konstantinopel.
Saat memasuki Konstantinopel, Sultan Muhammad al-Fatih turun dari kudanya lalu sujud sebagai tanda syukur kepada Allah. Setelah itu, ia menuju Gereja Hagia Sophia dan memerintahkan menggantinya menjadi masjid. Konstantinopel dijadikan sebagai ibu kota, pusat pemerintah Kerajaan Utsmani dan kota ini diganti namanya menjadi Islambul yang berarti negeri Islam, lau akhirnya mengalami perubahan menjadi Istanbul.
Selain itu, Sultan Muhammad al-Fatih juga memerintahkan untuk membangun masjid di makam sahabat yang mulia Abu Ayyub al-Anshari radhiallahu ‘anhu, salah seorang sahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang wafat saat menyerang Konstantinopel di zaman Khalifah Muawiyah bin Abu Sufyan radhiallahu ‘anhu.
Apa yang dilakukan oleh Sultan Muhammad tentu saja bertentangan dengan syariat, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
أَلاَ وَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانُوْا يَتَّخِذُوْنَ قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ وَصَالِحِيْهِمْ مَسَاجِدَ، أَلاَ فَلاَ تَتَّخِذُوا الْقُبُوْرَ مَسَاجِدَ، إِنِّي أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ.
“… Ketahuilah, bahwa sesungguhnya umat-umat sebelum kamu telah menjadikan kuburan Nabi-Nabi mereka sebagai tempat ibadah, tetapi janganlah kamu sekalian menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah, karena aku benar-benar melarang kamu melakukan perbuatan itu.” (HR. HR. Muslim no.532)
Kekeliruan yang dilakukan oleh Sultan Muhammad tidak serta-merta membuat kita menafikan jasa-jasanya yang sangat besar. Semoga Allah mengampuni kesalahan dan kekhilafannya beliau rahimahullah.
Setelah itu rentetat penaklukkan strategis dilakukan oleh Sultan Muhammad al-Fatih; ia membawa pasukannya menkalukkan Balkan, Yunani, Rumania, Albania, Asia Kecil, dll. bahkan ia telah mempersiapkan pasukan dan mengatur strategi untuk menaklukkan kerajaan Romawi di Italia, akan tetapi kematian telah menghalanginya untuk mewujudkan hal itu.
Peradaban Yang Dibangun Pada Masanya
Selain terkenal sebagai jenderal perang dan berhasil memperluas kekuasaan Utsmani melebihi sultan-sultan lainnya, Muhammad al-Fatih juga dikenal sebagai seorang penyair. Ia memiliki diwan, kumpulan syair yang ia buat sendiri.
Sultan Muhammad juga membangun lebih dari 300 masjid, 57 sekolah, dan 59 tempat pemandian di berbagai wilayah Utsmani. Peninggalannya yang paling terkenal adalah Masjid Sultan Muhammad II dan Jami’ Abu Ayyub al-Anshari
Wafatnya Sang Penakluk
Pada bulan Rabiul Awal tahun 886 H/1481 M, Sultan Muhammad al-Fatih pergi dari Istanbul untuk berjihad, padahal ia sedang dalam kondisi tidak sehat. Di tengah perjalanan sakit yang ia derita kian parah dan semakin berat ia rasakan. Dokter pun didatangkan untuk mengobatinya, namun dokter dan obat tidak lagi bermanfaat bagi sang Sultan, ia pun wafat di tengah pasukannya pada hari Kamis, tanggal 4 Rabiul Awal 886 H/3 Mei 1481 M. Saat itu Sultan Muhammad berusia 52 tahun dan memerintah selama 31 tahun. Ada yang mengatakan wafatnya Sultan Muhammad al-Fatih karena diracuni oleh dokter pribadinya Ya’qub Basya, Allahu a’lam.
Tidak ada keterangan yang bisa dijadikan sandaran kemana Sultan Muhammad II hendak membawa pasukannya. Ada yang mengatakan beliau hendak menuju Itali untuk menaklukkan Roma ada juga yang mengatakan menuju Prancis atau Spanyol.
Sebelum wafat, Muhammad al-Fatih mewasiatkan kepada putra dan penerus tahtanya, Sultan Bayazid II agar senantiasa dekat dengan para ulama, berbuat adil, tidak tertipu dengan harta, dan benar-benar menjaga agama baik untuk pribadi, masyarakat, dan kerajaan.
Semoga Allah membalas jasa-jasamu wahai Sultan Muhammad al-Fatih…
Sumber: islamstory.com


Sunday, August 21, 2016

Elakkan Taasub dan fanatik

Taasub dan ketaasuban seringkali difahami sebagai berpegang kepada sesuatu tanpa melihat kepada kebenaran yang terangkum di dalamnya. Perkataan fanantik kerap digunakan untuk menggantikan perkataan taasub. Perkataan fanatik mengikut Kamus Besar Bahasa Melayu Utusan (1995: 476) bermaksud taasub, tegar hati, kuat pegangan, kuat keyakinan dan kuat kepercayaan. Fanatisme pula ialah kepercayaan yang sangat kuat, terlampau kuat atau kepercayaan yang kuat.


Fanatik juga didefinisikan sebagai seorang yang menunjukkan keghairahan yang melampau dan kegigihan terhadap ketaatan membabi buta khususnya terhadap beberapa perkara kontroversi (sebagaimana dalam agama, politik atau falsafah). Biasanya seseorang itu menyeru terhadap pegangannya secara bersemangat dan ia adalah suatu desakan tanpa alasan dan tanpa tolak-ansur(Webster's Third New International Dictionary, 1986).


Masyarakat Islam berdepan dengan banyak sikap taasub sama ada taasub dari sudut politik, sosial, ekonomi dan lain-lain. Taasub dengan parti politik akan membuat pendokongnya 'mentakwilkan' atau 'mempositifkan' tindakan pemimpin, walaupun tindakan tersebut nyata salah dan membawa kerugian pada umat. Taasub kepada individu pula, namun memuliakan individu sama ada guru atau orang-orang soleh adalah dibenarkan, tetapi mungkin juga membuatkan seseorang mendewa-dewakan individu tersebut dan pendewaan inilah yang ditolak.


Taasub kepada sesuatu sistem ekonomi membuatkan seseorang sukar berubah kepada sistem ekonomi yang lain iaitu sistem ekonomi Islam. Golongan ini lebih selesa dan taasub dengan sistem ekonomi konvensional dan unsur ribawi sehingga memandang sinis kepada sistem ekonomi Islam.


Dari sudut sosialnya, sejarah peradaban Islam kerap membentangkan adanya budaya taasub mazhab di kalangan umat Islam. Pada tahap itu, pengikut-pengikut setiap mazhab bertelingkah mempertahankan mazhab masing-masing sehinggalah berlakunya pertelingkahan dan perpecahan. Namun telah berlaku kematangan sehingga ummah boleh menerima perbezaan pendapat dari sudut amalan-amalan fiqh. Hasilnya ummah dapat melihat berlakunya 'kematangan' dan setiap mazhab fiqh bertolak ansur terhadap perbezaan amalan-amalan fiqh di tengah-tengah masyarakat.


Kesan daripada kematangan ini ialah:

• Perbezaan mazhab dapat diterima secara harmoni. Dalam konteks Malaysia, umat Islam boleh menerima kehadiran Masjid India, Masjid Pakistan dan Masjid Cina Muslim.

• Pengajaran-pengajaran fiqh sunni dalam empat mazhab tersebut dapat diterima oleh majoriti negara Islam di institusi-institusi pengajian tinggi dan masjid-masjid, kecuali ada sedikit negara Islam bersikap tertutup dan meruntuhkan pengajian empat mazhab.

• Penekanan pegangan satu mazhab untuk sesuatu negara juga untuk mengelakkan ketidakselarasan telah diterima ummah. Sebagai buktinya, khilafah Uthmaniah terkenal dengan mazhab Hanafi tanpa mengenepikan hak masyarakat meyakini mazhab fiqh sunni yang lain.


Walaupun masyarakat ini dilabelkan sebagai taasub mazhab, namun mereka telah bersedia menerima perbezaan ini dengan berlapang dada tanpa sesat-menyesat atau kafir mengkafir. Oleh itu, di dalam lingkungan fahaman Ahlussunnah Wal Jamaah atau Sunni, kita tidak pernah mendengar pengikut Imam Shafie Rahimahullah menyesatkan pengikut Imam Abu Hanifah Rahimahullah..


Pada situasi yang lain, telah lahir golongan yang menyeru supaya tidak bermazhab. Mereka melabelkan golongan yang bermazhab dengan berbagai label, antaranya:

• Taasub kepada mazhab.

• Mengikut imam-imam dan bukan mengikut al-Quran dan sunnah.

• Perbezaan amalan fiqh membawa kepada bid'ah dan sesat. Habis disesatkan masyarakat yang beramal hukum fiqh secara berbeza seperti qunut, talkin, zikir berjemaah dan sebagainya.


Itulah antara tuduhan-tuduhan yang dilemparkan terhadap mereka yang bermazhab. Mereka gagal melihat atau tidak mahu melihat bahawa imam-imam mazhab dan murid-murid mereka sebenarnya mengeluarkan hukum hasil daripada kajian mendalam terhadap al-Quran dan al-sunnah. Bahkan mereka adalah generasi ulama Salaf yang disebut sebagai khayrul ummah (sebaik-baik ummah). Imam-imam tersebut tidak sekali-kali menuduh sesat kepada masyarakat pada persoalan cabang atau furuk. Bahkan mereka belajar dari ulama-ulama pelbagai mazhab untuk mendapatkan satu kepastian hujah bagi setiap mazhab tersebut. Pegangan inilah yang diwarisi kepada anak-anak murid mereka zaman berzaman. Pada keadaan tertentu, mereka bersetuju mengambil pandangan mazhab lain disebabkabkan dalil yang kuat, atau keperluan mendesak umat.


Kelihatannya, pihak yang membawa laungan untuk tidak bermazhab, mereka sebenarnya jatuh ke dalam 'taasub untuk tidak bermazhab'. Mereka sudah meletakkan satu ketetapan di dalam pemikiran mereka bahawa

• Hanya pandangan mereka benar.

• Memandang sinis kepada orang-orang yang bermazhab.

• Pandangan yang bertentangan adalah salah, sesat, bid'ah dan sebagainya. Pada banyak keadaan, mereka mendakwa pandangan berlawanan sebagai fahaman Syiah, Jahmiyyah dan sebagainya.

• Mereka tidak mahu mengikut fatwa Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Shafi'i dan Imam Ahmad dan anak-anak murid mereka kerana tidak mahu bertaqlid. Namun secara hakikatnya, mereka adalah pentaklid kepada Sheikh Ibn Taymiyyah, Ibn Qayyim, Muhammad Abdul Wahhab, Albani dan lain-lain. Kebanyakan hadis yang mereka keluarkan, bukan usaha mereka, tetapi dengan bertaklid kepada Albani. Lebih membimbangkan, pandangan imam-imam sebelumnya ditakwil supaya selaras dengan pandangan sheikh-sheikh rujukan mereka.

• Melarang pembelajaran mazhab-mazhab lain selain dari mazhab mereka atas alasan mazhab-mazhab tersebut tidak berpegang kepada dalil.

• Seruan supaya semua orang berijtihad walaupun secara hakikinya pengikut mereka sebenarnya tidak mampu berijtihad, sebaliknya mereka mengubah taklid dari bertaklid kepada imam-imam mazhab kepada bertaklid dengan pentafsiran mereka.


Mereka sebenarnya telah melahirkan mazhab kelima yang lahir selepas kurun ke 7 Hijrah, dan membawa pengikutnya mengikut pentafsiran orang yang jauh zamannya (al-Nazil) dari Rasulullah SAW, berbanding Imam-Imam mazhab (al-'ali)yang lahir dan hidup di sekitar tiga kurun pertama Hijrah.


Lebih membimbangkan, sekiranya ketaasuban golongan ini membawa kepada menganggap wajib memerangi perbezaan pandangan tersebut, kerana perbezaan amalan fiqh tersebut adalah sesat dan kedudukannya adalah mesti diperangi kerana ia setaraf dengan ijmak para sahabat iaitu kewajipan memerangi golongan yang tidak membayar zakat.


Inilah antara ketaasuban yang sedang menghantui masyarakat. Sikap keterbukaan dalam berbeza pendapat menjadi semakin tertutup dan sempit. Kesan ketaasuban ini telah mula dirasai secara mendalam oleh masyarakat Islam di Malaysia. Justeru, menjadi tanggungjawab pemimpin-pemimpin masyarakat, pendakwah-pendakwah dan para ustaz memperbetulkan keadaan ini supaya pertelingkahan dan perpecahan tidak melarat dan membawa kerugian kepada majoriti tipis masyarakat Islam di Malaysia. Semoga Allah SWT menyelamatkan umat ini daripada perpecahan yang semakin kritikal. Wallahu a'lam.

Thursday, November 19, 2015

Surat Nabi Muhammad SAW Kepada Paderi St. Catherine’s Monastery



Pada tahun 628 Nabi Muhammad SAW mengeluarkan Piagam Anugerah kepada biarawan St. Catherine Monastery di Mount Sinai.

Surat ini mengandungi tentang aspek-aspek hak asasi manusia termasuk perlindungan bagi umat Kristian, kebebasan beribadah dan bergerak, menjaga harta mereka, dan hak untuk dilindungi di dalam medan perang.

Di bawah adalah terjemahan dokumen tersebut di dalam bahasa Melayu 

    “Ini adalah mesej dari Muhammad ibn Abdullah, sebagai perjanjian dengan orang-orang yang mengamalkan agama Kristian, jauh mahupun dekat, kita bersama dengan mereka.

    Sesungguhnya saya, hamba-hamba, pembantu, dan pengikut saya mempertahankan mereka, kerana orang-orang Kristian juga adalah warganegara saya. Dan demi Allah! Saya bertahan terhadap apa-apa yang mengganggu mereka.

    Tiada paksaan yang diberikan ke atas mereka.

    Tidak ada hakim-hakim mereka yang akan dipecat daripada pekerjaan mereka dan tidak ada juga rahib mereka yang dibuang dari tempat ibadat mereka.

    Tidak ada sesiapa yang akan memusnahkan rumah ibadat mereka, merosakkan, atau membawa apa-apa dari rumah ibadat mereka ke rumah-rumah orang Islam.

    Sesiapa yang mengingkari perintah ini walaupun satu, dia akan merosakkan perjanjian Allah dan menderhaka kepada Rasul-Nya. Sesungguhnya, mereka adalah sekutu saya dan saya mempunyai piagam yang selamat terhadap apa yang mereka benci.

    Tiada sesiapa yang akan memaksa mereka untuk melakukan perjalanan atau memaksa mereka untuk berperang.

    Orang-orang Islam berjuang untuk mereka.

    Jika seorang wanita Kristian berkahwin dengan seorang Muslim, dan dilakukan tanpa kemahuan beliau. Dia tidak akan dihalang daripada melawat gereja untuk berdoa.

    Gereja-gereja mereka perlu dihormati. Mereka tidak boleh dihalang daripada memperbaiki diri mereka mahupun kesucian janjinya.

    Tiada satu negarapun (Islam) akan melanggar perjanjian ini sehingga ke hari terakhir (akhir dunia).”

Pada tahun 1517, piagam asli ini diambil oleh Sultan Selim I dari Turki dan kini berada di Muzium Topkapidi Istanbul. Akan tetapi Sultan memberikan salinan piagam tersebut kepada para biarawan, dan mengkaji isi piagam tersebut.

Dari koleksi besar gulungan kuno dan moden yang diawetkan di perpustakaan biara, jelaslah bahawa Perjanjian Nabi, walaupun asli ataupun hanya salinan, jelas memberikan hak dan perlindungan untuk umat Kristian.