Saturday, October 01, 2016

MUHAMMAD AL-FATIH, PENAKLUK KONSTANTINOPEL

Muhammad al-Fatih adalah salah seorang raja atau sultan Kerajaan Utsmani yang paling terkenal. Ia merupakan sultan ketujuh dalam sejarah Bani Utsmaniah. Al-Fatih adalah gelar yang senantiasa melekat pada namanya karena dialah yang mengakhiri atau menaklukkan Kerajaan Romawi Timur yang telah berkuasa selama 11 abad.

Karakter Pemimpin Yang Ditanamkan Sejak Kecil
Sultan Muhammad al-Fatih memerintah selama 30 tahun. Selain menaklukkan Binzantium, ia juga berhasil menaklukkan wilayah-wilayah di Asia, menyatukan kerajaan-kerajaan Anatolia dan wilayah-wilayah Eropa, dan termasuk jasanya yang paling penting adalah berhasil mengadaptasi menajemen Kerajaan Bizantium yang telah matang ke dalam Kerajaan Utsmani.
Muhammad al-Fatih dilahirkan pada 27 Rajab 835 H/30 Maret 1432 M di Kota Erdine, ibu kota Daulah Utsmaniyah saat itu. Ia adalah putra dari Sultan Murad II yang merupakan raja keenam Daulah Utsmaniyah.
Sultan Murad II memiliki perhatian yang besar terhadap pendidikan anaknya. Ia menempa buah hatinya agar kelak menjadi seorang pemimpin yang baik dan tangguh. Perhatian tersebut terlihat dari Muhammad kecil yang telah menyelesaikan hafalan Alquran 30 juz, mempelajari hadis-hadis, memahami ilmu fikih, belajar matematika, ilmu falak, dan strategi perang. Selain itu, Muhammad juga mempelajari berbagai bahasa, seperti: bahasa Arab, Persia, Latin, dan Yunani. Tidak heran, pada usia 21 tahun Muhammad sangat lancar berbahasa Arab, Turki, Persia, Ibrani, Latin, dan Yunani, luar biasa!
Walaupun usianya baru seumur jagung, sang ayah, Sultan Murad II, mengamanati Sultan Muhammad memimpin suatu daerah dengan bimbingan para ulama. Hal itu dilakukan sang ayah agar anaknya cepat menyadari bahwa dia memiliki tanggung jawab yang besar di kemudian hari. Bimbingan para ulama diharapkan menjadi kompas yang mengarahkan pemikiran anaknya agar sejalan dengan pemahaman Islam yang benar.
Menjadi Penguasa Utsmani
Sultan Muhammad II diangkat menjadi Khalifah Utsmaniyah pada tanggal 5 Muharam 855 H bersamaan dengan 7 Febuari 1451 M. Program besar yang langsung ia canangkan ketika menjabat sebagai khalifah adalah menaklukkan Konstantinopel.
Langkah pertama yang Sultan Muhammad lakukan untuk mewujudkan cita-citanya adalah melakukan kebijakan militer dan politik luar negeri yang strategis. Ia memperbarui perjanjian dan kesepakatan yang telah terjalin dengan negara-negara tetangga dan sekutu-sekutu militernya. Pengaturan ulang perjanjian tersebut bertujuan menghilangkan pengaruh Kerajaan Bizantium Romawi di wilayah-wilayah tetangga Utsmaniah baik secara politis maupun militer.
Menaklukkan Bizantium
Sultan Muhammad II juga menyiapkan lebih dari 4 juta prajurit yang akan mengepung Konstantinopel dari darat. Pada saat mengepung benteng Bizantium banyak pasukan Utsmani yang gugur karena kuatnya pertahanan benteng tersebut. Pengepungan yang berlangsung tidak kurang dari 50 hari itu, benar-benar menguji kesabaran pasukan Utsmani, menguras tenaga, pikiran, dan perbekalan mereka.
Pertahanan yang tangguh dari kerajaan besar Romawi ini terlihat sejak mula. Sebelum musuh mencapai benteng mereka, Bizantium telah memagari laut mereka dengan rantai yang membentang di semenanjung Tanduk Emas. Tidak mungkin bisa menyentuh benteng Bizantium kecuali dengan melintasi rantai tersebut.
Akhirnya Sultan Muhammad menemukan ide yang ia anggap merupakan satu-satunya cara agar bisa melewati pagar tersebut. Ide ini mirip dengan yang dilakukan oleh para pangeran Kiev yang menyerang Bizantium di abad ke-10, para pangeran Kiev menarik kapalnya keluar Selat Bosporus, mengelilingi Galata, dan meluncurkannya kembali di Tanduk Emas, akan tetapi pasukan mereka tetap dikalahkan oleh orang-orang Bizantium Romawi. Sultan Muhammad melakukannya dengan cara yang lebih cerdik lagi, ia menggandeng 70 kapalnya melintasi Galata ke muara setelah meminyaki batang-batang kayu. Hal itu dilakukan dalam waktu yang sangat singkat, tidak sampai satu malam.
Di pagi hari, Bizantium kaget bukan kepalang, mereka sama sekali tidak mengira Sultan Muhammad dan pasukannya menyeberangkan kapal-kapal mereka lewat jalur darat. 70 kapal laut diseberangkan lewat jalur darat yang masih ditumbuhi pohon-pohon besar, menebangi pohon-pohonnya dan menyeberangkan kapal-kapal dalam waktu satu malam adalah suatu kemustahilan menurut mereka, akan tetapi itulah yang terjadi.
Tanduk Emas atau Golden Horn
Tanduk Emas atau Golden Horn, di Istanbul, Turki.
Peperangan dahsyat pun terjadi, benteng yang tak tersentuh sebagai simbol kekuatan Bizantium itu akhirnya diserang oleh orang-orang yang tidak takut akan kematian. Akhirnya kerajaan besar yang berumur 11 abad itu jatuh ke tangan kaum muslimin. Peperangan besar itu mengakibatkan 265.000 pasukan umat Islam gugur. Pada tanggal 20 Jumadil Awal 857 H bersamaan dengan 29 Mei 1453 M, Sultan al-Ghazi Muhammad berhasil memasuki Kota Konstantinopel. Sejak saat itulah ia dikenal dengan nama Sultan Muhammad al-Fatih, penakluk Konstantinopel.
Saat memasuki Konstantinopel, Sultan Muhammad al-Fatih turun dari kudanya lalu sujud sebagai tanda syukur kepada Allah. Setelah itu, ia menuju Gereja Hagia Sophia dan memerintahkan menggantinya menjadi masjid. Konstantinopel dijadikan sebagai ibu kota, pusat pemerintah Kerajaan Utsmani dan kota ini diganti namanya menjadi Islambul yang berarti negeri Islam, lau akhirnya mengalami perubahan menjadi Istanbul.
Selain itu, Sultan Muhammad al-Fatih juga memerintahkan untuk membangun masjid di makam sahabat yang mulia Abu Ayyub al-Anshari radhiallahu ‘anhu, salah seorang sahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang wafat saat menyerang Konstantinopel di zaman Khalifah Muawiyah bin Abu Sufyan radhiallahu ‘anhu.
Apa yang dilakukan oleh Sultan Muhammad tentu saja bertentangan dengan syariat, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
أَلاَ وَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانُوْا يَتَّخِذُوْنَ قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ وَصَالِحِيْهِمْ مَسَاجِدَ، أَلاَ فَلاَ تَتَّخِذُوا الْقُبُوْرَ مَسَاجِدَ، إِنِّي أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ.
“… Ketahuilah, bahwa sesungguhnya umat-umat sebelum kamu telah menjadikan kuburan Nabi-Nabi mereka sebagai tempat ibadah, tetapi janganlah kamu sekalian menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah, karena aku benar-benar melarang kamu melakukan perbuatan itu.” (HR. HR. Muslim no.532)
Kekeliruan yang dilakukan oleh Sultan Muhammad tidak serta-merta membuat kita menafikan jasa-jasanya yang sangat besar. Semoga Allah mengampuni kesalahan dan kekhilafannya beliau rahimahullah.
Setelah itu rentetat penaklukkan strategis dilakukan oleh Sultan Muhammad al-Fatih; ia membawa pasukannya menkalukkan Balkan, Yunani, Rumania, Albania, Asia Kecil, dll. bahkan ia telah mempersiapkan pasukan dan mengatur strategi untuk menaklukkan kerajaan Romawi di Italia, akan tetapi kematian telah menghalanginya untuk mewujudkan hal itu.
Peradaban Yang Dibangun Pada Masanya
Selain terkenal sebagai jenderal perang dan berhasil memperluas kekuasaan Utsmani melebihi sultan-sultan lainnya, Muhammad al-Fatih juga dikenal sebagai seorang penyair. Ia memiliki diwan, kumpulan syair yang ia buat sendiri.
Sultan Muhammad juga membangun lebih dari 300 masjid, 57 sekolah, dan 59 tempat pemandian di berbagai wilayah Utsmani. Peninggalannya yang paling terkenal adalah Masjid Sultan Muhammad II dan Jami’ Abu Ayyub al-Anshari
Wafatnya Sang Penakluk
Pada bulan Rabiul Awal tahun 886 H/1481 M, Sultan Muhammad al-Fatih pergi dari Istanbul untuk berjihad, padahal ia sedang dalam kondisi tidak sehat. Di tengah perjalanan sakit yang ia derita kian parah dan semakin berat ia rasakan. Dokter pun didatangkan untuk mengobatinya, namun dokter dan obat tidak lagi bermanfaat bagi sang Sultan, ia pun wafat di tengah pasukannya pada hari Kamis, tanggal 4 Rabiul Awal 886 H/3 Mei 1481 M. Saat itu Sultan Muhammad berusia 52 tahun dan memerintah selama 31 tahun. Ada yang mengatakan wafatnya Sultan Muhammad al-Fatih karena diracuni oleh dokter pribadinya Ya’qub Basya, Allahu a’lam.
Tidak ada keterangan yang bisa dijadikan sandaran kemana Sultan Muhammad II hendak membawa pasukannya. Ada yang mengatakan beliau hendak menuju Itali untuk menaklukkan Roma ada juga yang mengatakan menuju Prancis atau Spanyol.
Sebelum wafat, Muhammad al-Fatih mewasiatkan kepada putra dan penerus tahtanya, Sultan Bayazid II agar senantiasa dekat dengan para ulama, berbuat adil, tidak tertipu dengan harta, dan benar-benar menjaga agama baik untuk pribadi, masyarakat, dan kerajaan.
Semoga Allah membalas jasa-jasamu wahai Sultan Muhammad al-Fatih…
Sumber: islamstory.com


Sunday, August 21, 2016

Elakkan Taasub dan fanatik

Taasub dan ketaasuban seringkali difahami sebagai berpegang kepada sesuatu tanpa melihat kepada kebenaran yang terangkum di dalamnya. Perkataan fanantik kerap digunakan untuk menggantikan perkataan taasub. Perkataan fanatik mengikut Kamus Besar Bahasa Melayu Utusan (1995: 476) bermaksud taasub, tegar hati, kuat pegangan, kuat keyakinan dan kuat kepercayaan. Fanatisme pula ialah kepercayaan yang sangat kuat, terlampau kuat atau kepercayaan yang kuat.


Fanatik juga didefinisikan sebagai seorang yang menunjukkan keghairahan yang melampau dan kegigihan terhadap ketaatan membabi buta khususnya terhadap beberapa perkara kontroversi (sebagaimana dalam agama, politik atau falsafah). Biasanya seseorang itu menyeru terhadap pegangannya secara bersemangat dan ia adalah suatu desakan tanpa alasan dan tanpa tolak-ansur(Webster's Third New International Dictionary, 1986).


Masyarakat Islam berdepan dengan banyak sikap taasub sama ada taasub dari sudut politik, sosial, ekonomi dan lain-lain. Taasub dengan parti politik akan membuat pendokongnya 'mentakwilkan' atau 'mempositifkan' tindakan pemimpin, walaupun tindakan tersebut nyata salah dan membawa kerugian pada umat. Taasub kepada individu pula, namun memuliakan individu sama ada guru atau orang-orang soleh adalah dibenarkan, tetapi mungkin juga membuatkan seseorang mendewa-dewakan individu tersebut dan pendewaan inilah yang ditolak.


Taasub kepada sesuatu sistem ekonomi membuatkan seseorang sukar berubah kepada sistem ekonomi yang lain iaitu sistem ekonomi Islam. Golongan ini lebih selesa dan taasub dengan sistem ekonomi konvensional dan unsur ribawi sehingga memandang sinis kepada sistem ekonomi Islam.


Dari sudut sosialnya, sejarah peradaban Islam kerap membentangkan adanya budaya taasub mazhab di kalangan umat Islam. Pada tahap itu, pengikut-pengikut setiap mazhab bertelingkah mempertahankan mazhab masing-masing sehinggalah berlakunya pertelingkahan dan perpecahan. Namun telah berlaku kematangan sehingga ummah boleh menerima perbezaan pendapat dari sudut amalan-amalan fiqh. Hasilnya ummah dapat melihat berlakunya 'kematangan' dan setiap mazhab fiqh bertolak ansur terhadap perbezaan amalan-amalan fiqh di tengah-tengah masyarakat.


Kesan daripada kematangan ini ialah:

• Perbezaan mazhab dapat diterima secara harmoni. Dalam konteks Malaysia, umat Islam boleh menerima kehadiran Masjid India, Masjid Pakistan dan Masjid Cina Muslim.

• Pengajaran-pengajaran fiqh sunni dalam empat mazhab tersebut dapat diterima oleh majoriti negara Islam di institusi-institusi pengajian tinggi dan masjid-masjid, kecuali ada sedikit negara Islam bersikap tertutup dan meruntuhkan pengajian empat mazhab.

• Penekanan pegangan satu mazhab untuk sesuatu negara juga untuk mengelakkan ketidakselarasan telah diterima ummah. Sebagai buktinya, khilafah Uthmaniah terkenal dengan mazhab Hanafi tanpa mengenepikan hak masyarakat meyakini mazhab fiqh sunni yang lain.


Walaupun masyarakat ini dilabelkan sebagai taasub mazhab, namun mereka telah bersedia menerima perbezaan ini dengan berlapang dada tanpa sesat-menyesat atau kafir mengkafir. Oleh itu, di dalam lingkungan fahaman Ahlussunnah Wal Jamaah atau Sunni, kita tidak pernah mendengar pengikut Imam Shafie Rahimahullah menyesatkan pengikut Imam Abu Hanifah Rahimahullah..


Pada situasi yang lain, telah lahir golongan yang menyeru supaya tidak bermazhab. Mereka melabelkan golongan yang bermazhab dengan berbagai label, antaranya:

• Taasub kepada mazhab.

• Mengikut imam-imam dan bukan mengikut al-Quran dan sunnah.

• Perbezaan amalan fiqh membawa kepada bid'ah dan sesat. Habis disesatkan masyarakat yang beramal hukum fiqh secara berbeza seperti qunut, talkin, zikir berjemaah dan sebagainya.


Itulah antara tuduhan-tuduhan yang dilemparkan terhadap mereka yang bermazhab. Mereka gagal melihat atau tidak mahu melihat bahawa imam-imam mazhab dan murid-murid mereka sebenarnya mengeluarkan hukum hasil daripada kajian mendalam terhadap al-Quran dan al-sunnah. Bahkan mereka adalah generasi ulama Salaf yang disebut sebagai khayrul ummah (sebaik-baik ummah). Imam-imam tersebut tidak sekali-kali menuduh sesat kepada masyarakat pada persoalan cabang atau furuk. Bahkan mereka belajar dari ulama-ulama pelbagai mazhab untuk mendapatkan satu kepastian hujah bagi setiap mazhab tersebut. Pegangan inilah yang diwarisi kepada anak-anak murid mereka zaman berzaman. Pada keadaan tertentu, mereka bersetuju mengambil pandangan mazhab lain disebabkabkan dalil yang kuat, atau keperluan mendesak umat.


Kelihatannya, pihak yang membawa laungan untuk tidak bermazhab, mereka sebenarnya jatuh ke dalam 'taasub untuk tidak bermazhab'. Mereka sudah meletakkan satu ketetapan di dalam pemikiran mereka bahawa

• Hanya pandangan mereka benar.

• Memandang sinis kepada orang-orang yang bermazhab.

• Pandangan yang bertentangan adalah salah, sesat, bid'ah dan sebagainya. Pada banyak keadaan, mereka mendakwa pandangan berlawanan sebagai fahaman Syiah, Jahmiyyah dan sebagainya.

• Mereka tidak mahu mengikut fatwa Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Shafi'i dan Imam Ahmad dan anak-anak murid mereka kerana tidak mahu bertaqlid. Namun secara hakikatnya, mereka adalah pentaklid kepada Sheikh Ibn Taymiyyah, Ibn Qayyim, Muhammad Abdul Wahhab, Albani dan lain-lain. Kebanyakan hadis yang mereka keluarkan, bukan usaha mereka, tetapi dengan bertaklid kepada Albani. Lebih membimbangkan, pandangan imam-imam sebelumnya ditakwil supaya selaras dengan pandangan sheikh-sheikh rujukan mereka.

• Melarang pembelajaran mazhab-mazhab lain selain dari mazhab mereka atas alasan mazhab-mazhab tersebut tidak berpegang kepada dalil.

• Seruan supaya semua orang berijtihad walaupun secara hakikinya pengikut mereka sebenarnya tidak mampu berijtihad, sebaliknya mereka mengubah taklid dari bertaklid kepada imam-imam mazhab kepada bertaklid dengan pentafsiran mereka.


Mereka sebenarnya telah melahirkan mazhab kelima yang lahir selepas kurun ke 7 Hijrah, dan membawa pengikutnya mengikut pentafsiran orang yang jauh zamannya (al-Nazil) dari Rasulullah SAW, berbanding Imam-Imam mazhab (al-'ali)yang lahir dan hidup di sekitar tiga kurun pertama Hijrah.


Lebih membimbangkan, sekiranya ketaasuban golongan ini membawa kepada menganggap wajib memerangi perbezaan pandangan tersebut, kerana perbezaan amalan fiqh tersebut adalah sesat dan kedudukannya adalah mesti diperangi kerana ia setaraf dengan ijmak para sahabat iaitu kewajipan memerangi golongan yang tidak membayar zakat.


Inilah antara ketaasuban yang sedang menghantui masyarakat. Sikap keterbukaan dalam berbeza pendapat menjadi semakin tertutup dan sempit. Kesan ketaasuban ini telah mula dirasai secara mendalam oleh masyarakat Islam di Malaysia. Justeru, menjadi tanggungjawab pemimpin-pemimpin masyarakat, pendakwah-pendakwah dan para ustaz memperbetulkan keadaan ini supaya pertelingkahan dan perpecahan tidak melarat dan membawa kerugian kepada majoriti tipis masyarakat Islam di Malaysia. Semoga Allah SWT menyelamatkan umat ini daripada perpecahan yang semakin kritikal. Wallahu a'lam.