Wednesday, September 05, 2012

Keanehan Pulau Socotra - Pulau Dajjal?


 


Salah satu kawasan digelar sebagai ‘neraka dunia’ adalah Socotra. Tidak diketahui kenapa ia dianggap sebagai Neraka Dunia. Sebagai pulau terbesar daripada empat pulau di Lautan Hindi, Socotra terletak kira-kira 240 kilometer ke timur Afrika Timur. Ia pulau terpencil dan satu pertiga daripada tumbuhan di situ, termasuk pokok gergasi tidak akan ditemui di tempat lain. Socotra amat aneh sehingga digambarkan sebagai tempat paling pelik di bumi.



KEANEHAN INI MENGUNDANG TANDATANYA BANYAK PIHAK KENAPA PULAU INI TIDAK MENDAPAT TEMPAT DI KALANGAN PELANCUNG, TERBIAR DAN TERSISIH WALAUPUN IA MEMPUNYAI BEBERAPA KELEBIHAN BERBANDING MANA-MANA TEMPAT LAIN DI DUNIA.

Kepulauan Socotra di Yaman yang dikenali juga sebagai 'The Roof of Arabia'. Yang sangat menarik ialah flora dan fauna serta landscape yang tak pernah kita tengok di tv atau pun media cetak sebelum ini. Kepulauan Socotra baru saja di calonkan sebagai 'one of the new seven wonders of the word'. UNESCO pula mengiktiraf Socotra Island sebagai 'world heritage site' baru-baru ini.


Pulau Socotra yang terletak kira-kira 210 meter di luar Semenanjung Arab. Socotra merupakan DUNIA ASING � bagi penduduk Yaman sendiri. Penduduk di situ menggunakan bahasa mereka yang tersendiri iaitu bahasa Soqotri. Hanya akhir-akhir ini, pulau ini boleh dikunjungi dengan bot tetapi tetap terpisah dari dunia luar apabila musim monsun tiba dari bulan Jun hingga September.






Pulau terpencil ini hanya didiami sekitar 40.000 orang. Nama Socotra itu sendiri diambil dari bahasa Sansekerta yang artinya “Pulau Kebahagiaan”. Banyak pohon dan tumbuhan di pulau ini termasuk dalam kategori flora endemis, yang artinya tidak ditemui di tempat lain di dunia selain di pulau Socotra. Bahkan ada beberapa varieti yang diprediksikan telah mencapai usia 20 juta tahun.



Kelainan kejadian di sebuah pulau di Laut Arab, muka laluan ke Teluk Eden. Ciptaan Allah Subhana Wa Ta'ala yang tidak terdapat di lain tempat di dunia.



Anehnya, walaupun Pulau Socotra mempunyai keistimewaan yang tidak terdapat di lain tempat, ia bukanlah satu lokasi tarikan pelancung. :
  • Pulau Socotra adalah pulau yang memiliki iklim tropika padang pasir. Panasnya mencapai sehingga 40 darjaht celcius.
  • Pulau Socotra adalah pulau yang dilindungi keasliannya, di sana hampir tidak dibangunkan jalan raya. Satu-satunya jalan yang ada di sana, hanya dibina kira-kira 2 tahun yang lalu melalui antara Pemerintah Yaman dan UNESCO.
  • Tidak banyak usaha dilakukan ubtuk menarik pelancung ke Pulau Socotra agar keaslian pulau Socotra terpelihara. Tiada kemudahan disediakan termasuk hotel atau tempat ristirahat di sana.










Seakan Pokok Bonzai



socotra09



Dragon Blood

Lebih aneh apabila ada masyarakat yang mengaitkannya dengan penjara Dajjal. Pulau socotra, pulau terpelik didunia,. mempunyai spesis tumbuhan yang amat pelik, seperti dragon blood tree, atau pokok darah naga, getahnya berwarna merah. pokok 'Dragon Blood Tree'. Dalam bahasa tempatan Dam al-Akhawain bermaksud..'blood of the two brothers'. Pokok ini beharga kerana getah nya yang berwarna merah digunakan sebagai pembuatan ubat dan kosmetik. Pokok nya begitu cantik dan unik.Pokok Daragon's Blood ini ialah salah satu diantara 900 spesis pokok yang sangat pelik dan popular di pulau Socotra. Bila ke sini seperti pergi ke planet alien, teori sebahagian pengalisa menyatakan pulau ini mungkin tempat dajjal di kurung




Tidak dapat dipastikan kebenarannya kerana ia termasuk dalam kretria berita ghaib dan hanya berpandukan salah satu hadis yang menyebut tempat Dajjal dikurung ialah Laut Yaman. Wallahu a'lam.

Dracaena cinnabari - Koko Crater Botanical Garden - IMG 2295.JPG

.





Sejarah pulau Socotra
Nama socotra berasal dari bahasa sansekerta, 'sukhadhara dvipa' yang berarti "pulau kebahagiaan". Menurut sejarah, penduduk pulau socotra telah memeluk Kristen sejak tahun 52 setelah masehi. Pada abad 10, seorang ahli geografi Arab yang bernama Abu Muhammad Al-Hassan Al-Hamdani menyatakan bahwa pada masanya, penduduk Socotra majoriti memeluk agama Kristen. Konon mereka juga telah mempraktikkan ritual sihir kuno. 


Pada tahun 1507, armada Portugis mendarat di pulau ini. Tujuan mereka adalah untuk menghentikan perdagangan Arab dari Laut Merah ke Samudra Hindi serta untuk menghapuskan aturan-aturan Islam dalam perdagangan tersebut. Namun, invasi Portugis ini tidak berjaya karena penduduk setempat menentang mereka. Pada tahun 1511, pulau ini dikuasai oleh Kesultanan Mahra. 456 tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 30 November 1967, Pulau Socotra menjadi bagian dari Republik Rakyat Yaman Selatan yang pada saat ini telah berubah menjadi Republik Yaman.

Geografi dan Iklim
Pulau Socotra termasuk tempat yang paling terpencil di dunia. Sebenarnya Socotra merupakan sebuah kepulauan. Pulau Socotra sendiri merupakan pulau utama, sedang 3 pulau kecil lainnya bernama pulau Abd Al Kuri, Pulau Samhah,dan Pulau Darsa. Puncak tertinggi di Pulau Socotra adalah pegunungan Haghier dengan ketinggian 1500m dari permukaan laut. Iklim di pulau ini diklasifikasikan sebagai iklim koppen dengan suhu tahunan rata-rata diatas 18 derajat Celcius.

Flora dan Fauna
Inilah yang membuat pulau ini begitu terkenal akan keeksotisannya, sekaligus menjadi misteri tersendiri. Karakteristik iklim dan geologi pulau ini yang unik menjadikan flora-flora yang tumbuh di pulau ini unik. Bahkan floranya termasuk tumbuhan endemik, jadi tumbuhan tersebut hanya ada di pulau Socotra. Ada pula beberapa tumbuhan yang terancam hidup di pulau ini. Flora dengan bentuk aneh sepertipohon Darah Naga (Dracanea Cinnabari) menjadi ikon khas pulau ini. Konon getah pohon ini digunakan penduduknya sebagai ubat dari segala penyakit. Flora unik lainnya adalah tanaman raksasa Dorstenia, Dendrosicyos, pohon Delima Socotra yang langka (punica protopunica).


Pohon Darah Naga


Naga berdarah-darah


Dorstenia Socotra

Disisi fauna, pulau ini juga memiliki spesies burung endemik seperti Socotra Starling Onychognathus Frater, Socotra Sunbird Nectarinia Balfouri, Socotra Sparrow Passer Insularis,dan Grosbeak Socotra Rhynchostruthus Socotranus. Ada juga Burung Penyanyi Socotra, incana incana. Kelelawar adalah satu-satunya mamalia asli pulau Socotra. Pulau ini juga memiliki spesies endemik terumbu karang. Akan tetapi hewan-hewan yang dibawa oleh manusia seperti ayam, kambing, sapi, dll dikhawatirkan akan merusak flora-flora asli pulau tersebut di masa depan.


Socotra Starling Onychognathus Frater


Socotra Sunbird Nectarinia Balfouri

Pengakuan Oleh UNESCO
Pulau ini diakui UNESCO sebagai satu warisan alam dunia pada Julai 2008. Perlindungan keterlaluan terhadap pulau ini hingga tidak dibangun fasiliti bagi pengunjung seperti hotel, restoran, dan bangunan lainnya meski pulau ini memiliki potensi sebagai tempat bercuti yang luar biasa.

Hal Lain Mengenai Pulau Ini
Bahasa asli penduduk di pulau ini adalah Bahasa Semit Soqotri yang hanya diucapkan di pulau Socotra. Terlepas dari keindahan alam Pulau Socotra, banyak ilmuwan yang tertarik dan meneliti pulau yang memiliki flora dan fauna yang boleh saya katakan "lain dari yang lain" . Sebahagian ilmuwan berpendapat flora dan fauna di pulau ini merupakan spesies yang hidup di masa lampau dan belum pernah diidentifikasi sebelumnya. Karena letak pulau yang terasing dari dunia luar dan karakteristik iklimnya yang unik, flora dan fauna ini masih bertahan hidup hingga saat ini. Demikianlah sekilas mengenai Pulau Socotra,dengan segala keunikan dan keindahan alamnya, tidak hairan jika UNESCO dan pemerintah Yaman bermati-matian mempertahankan keaslian pulau ini.

baca selengkapnya disini Fenomena Pulau Socotra | The Noock 
http://noock.blogspot.com 


Semuanya hak milik Allah, dan  hanya Dia sahaja yang benar-benar tahu setiap ciptaanNya.


......

/maklumat tambahan








Getting around can be a challenge, as there are almost no roads. Despite the fact that this island has around 40,000 inhabitants, the Yemeni government put in the first roads just 2 years ago - after negotiations with UNESCO, which has declared this island a World Natural Heritage Site. I would prefer a camel ride to what is bound to be a bumpy and slow 4x4 ride... It is a quiet and peaceful enclave in an otherwise troubled world. If you decide to visit there, you can forget about beachfront hotels and restaurants; this island is geared towards eco-tourism and sustaining the local economy and way of life.

This island is a birder's paradise as well, with 140 different species of birds, 10 of which are not found anywhere else in the world. A unique Socotra warbler, sunbird, starling, bunting, sparrow, and cisticola are among the ones found here. There are also Socotra Cormorants:

Want to see some fairy-tale (and possibly haunted) shipwrecks? There are diving tours available... Hopefully some IMAX crew will film it in all its glory one day.



To give you a glimpse of Socotra's and Yemen's in general totally unique architecture, check out this place located on the mainland: Al Hajarah, Yemen - Walled city in the mist







Socotra is one of those "lost world" islands (separated from the world six million years ago) where intrepid travellers - particularly those seeking exotic nature and wildlife in a remote tropical setting - can go days on end without rubbing shoulders with that less-than-endangered species: tourists. Known for decades as theGalapagos of the Indian Ocean, it's the world's tenth richest island for endemic plant species. And it's the biggest island in the Middle East…125 km in length and 45 km across. Meanwhile, the landscape is one of contrasts; for example, it has isolated nature preserves with dazzling wildlife, including 900 species of plants, the famous Dragon's Blood Tree "dracaena cinnabara," some of the rarest birds that exist nowhere else in the world, and picturesque sandy beaches.



The Socotra Archipelago lies 380 km to the south of Ras Fartak on the Arabian Sea coast of Yemen. It includes a group of islands – Socotra, Darsa, Samha and Abd Al Kuri. The western-most point of the Archipelago is just 80 km east of Cape Guardafui on the Somalia Peninsula.

With a total land area of 3625 m2, Socotra is the largest of four islands. The eastern and central parts of the island are dominated by high mountain ranges with 1,570 m peaks and valleys providing green refreshing oases, sometimes hidden.

Photos of Socotra...

 Home to unique species



Long ago the Socotra Islands were a part of Africa and Arabia, now separated by the Gulf of Aden. Its long isolation period lasted for at least 20 million years favored evolution and origination of new species.

The Islands are a home to a great number of endemic species. All the land mollusks, 90% of the reptiles and a third of the plants can be only met in this area. Its population of endemic bird species is the biggest on the Middle East.

Socotra - Pool


Owing to location at the northwest part of the Indian Ocean, east of the entrance to the Red Sea, the Islands are inhabited by exceptionally great variety of fish, corals and other invertebrates carried here by major ocean currents from nearby and far away seas.

Unique people



The Socotrans are cheerful and self-sufficient people with optimistic attitude to life in spite of severe living conditions. They speak a unique classical Semitic preliterate language, Socotri, that is very different from modern Arabic.









Isolated by seasonally bad weather and a lack of regular transport until recent years, the inhabitants of the Socotra Islands have not had practically influence from the modern world. Therefore, for survival the Socotra people have developed deep respect and understanding of their land and sea.



The Socotra Islands have global significance because of their evolutionary uniqueness, biological diversity and socio-cultural heritage. The Republic of Yemen with support of the United Nations and an alliance of governments implements a number of conservation and sustainable development programs, one of which is the Socotra Conservation Zoning Plan approved by the President of Yemen in 2002.The islands were recognized by the United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) as a world natural heritage site in July 2008. The European Union has supported such a move, calling on both UNESCO and International Organisation of Protecting Environment to classify the island archipelago among the environmental heritages.[1]



Tourism on Socotra; Socotrian Guides

Tourism on Socotra is at its early stage of development. Every year the island is visited by not more than 2000 tourists on average, which is still environmentally friendly for the present.

Socotra is a rather small island. It attracts people as a solitary place with rich landscapes not spoiled by the world progress. We do hope that at least in the near future Socotra will not lose its attractiveness because of its increasing popularity among tourists. However, we have to state that today already many popular camping sites have been spoiled by the tourist flow.

Socotra turns into a well-known and loved place. But you have to get clear understanding of the island visiting format, its living and food conditions before coming here.

We have pleasure to offer our guide services to those who want not only to take a rest on Socotra, but also to remember it as a Dream Island.

We arrange tours on Socotra in cooperation with the local guides having many years' experience with tourists from various countries. They are highly professional and can show you the most attractive places of island, tell about its nature, language and culture, as well as organize diving, trekking or special programs.
We can help you to book a standard tour with food and overnight accommodation in Hadiboh hotels (3-4*) and at camping sites with toilet and shower rooms.

Our individual and group tours are developed to show you a great many interesting places that are not included in usual tourist programs and, that is why, have preserved their absolute purity. We take care of you during the whole trip with paying special attention to food arrangements.



Socotra Goat


I was surprised to find tanks positioned all over the island of Socotra, I've no idea why they were here and if they were ever used. My understanding is that they are Soviet T-34 tanks, but I couldn't find any history about recent conflicts that took place in Socotra. It seems like instead of using these as tanks they dug them along the coast and used them as stationary turrents. Bellow are two different tanks I passed by.

Socotra - Soviet T-34 Tank


Socotra - Soviet T-34 Tank


more picture KLICK


Sumber : abatasa ii

Tuesday, September 04, 2012

Bolehkah Gabung Puasa Sunat 6 Syawal & Puasa Qadha ?






Oleh:
Zaharuddin Abd Rahman
http://www.zaharuddin.net/


Isu menggabungkan puasa qadha dan syawal sememangnya amat popular, pandangan ringkas saya adalah seperti berikut :-

Tidak elok untuk menggabungkan kedua-duanya bagi mereka yang mampu (dari sudut kesihatan tubuh dan lain-lain) untuk memisahkannya. Ini kerana sepengetahuan saya tiada dalil yang spesifik membuktikan Nabi SAW pernah melakukannya atau menganjurkan kepada para sahabat untuk menggabungkannya.

Apabila Nabi, sahabat dan salaf soleh tidak melakukannya maka pastinya ia bukanlah amalan yang terpilih dan terbaik kerana pilihan Nabi SAW dan para sahabat selamanya adalah yang terbaik.

Malah terdapat juga hujjah-hujjah yang menyebabkan pandangan yang yang mengharuskan penggabungan ‘qadha dan ganti’ itu dipersoalkan, iaitu :-

1. Jika seseorang mengatakan boleh gabung puasa qadha (yang wajib) dengan puasa syawwal (yang sunat) maka sudah tentu selepas ini timbul pula individu yang cuba menggabungkan solat wajib dengan solat sunat, seperti gabungan solat isyak dengan terawih, atau subuh dengan ‘tahiyyatul masjid’ atau dengan solat sunat fajar, atau solat jumaat dengan solat sunat ‘tahiyyatul masjid’. Maka ini pasti menyebabkan masalah lain timbul dalam ibadah wajib termasuk rekaan-rekaan pelik seperti solat fardhu subuh campur istikharah dan lain-lain.

2. Menurut Prof. Dr Syeikh Abd Malik as-Sa’dy (ex-Lajnah Fatwa Iraq) dan Prof Dr Mohd ‘Uqlah el-Ibrahim (Jordan) mereka berpendapat bahawa amalan wajib tidak boleh digabungkan dengan apa-apa amalan wajib atau sunat lain, kerana amalan wajib memerlukan tumpuan khusus yang tidak berbelah bahagi semasa pelaksanaannya dan ia perlu bagi mengangkat tuntutan kewajibannya. Justeru, tindakan menggabungkan ini pasti mengurangkan kesempurnaan hamba dalam menunaikan tuntutan wajib mereka. Wallahu a’lam.

3. Tindakan A’isyah ra yang melewatkan Qadha pula boleh di jadikan hujjah bahawa beliau mengasingkan kedua-dua puasa Qadha dan Syawwal. Maka ini lah yang terpilih sepatutnya. (tidak gabungkan kerana aisyah tidak menggabungkannya) . Aisyah menyebut :
كأن يكون عليّ الصيام من شهر رمضان فما أقضيه حتى يجئ شعبان
Ertinya : Kewajiban ke atasku untuk puasa (Qadha) dari puasa Ramdhan, tidaklah aku menggantinya sehingga datang sya’ban” ( Riwayat Muslim, no 101)

4. Amalan wajib (qadha) memerlukan niat yang ‘jazam’ (tepat dan pasti) maka tindakan mengabungkan ia dengan niat puasa sunat mungkin boleh merosakkannya kepastiannya. Kerana itulah ulama yang mengizinkannya mencadangkan agar diniat puasa qadha sahaja, adapun syawwal itu dipendam sahaja dengan harapan Allah menerimanya.
Bagaimanapun, ulama yang mencadangkan ini jelas menyatakan bahawa tindakan menggabungkannya tetap mengurangkan pahala sunat syawwal ini kerana tidak diniat dan tidak dilakukan sepenuhnya (Hasyiah As-Syarqawi ‘ala al-Tahrir, Syeikh Zakaria Al-Ansary, 1/427; naqal dari Min Ahsanil Kalam Fil Fatawa, Atiyyah Saqr, 2/23)

5. Malah ada pula yang berhujjah bahawa amalan sunat tidak boleh ditunaikan sebelum amalan fardu. Demikian menurut Syeikh Abu Raghib al-Asfahani, Syeikh Ihsan Muhammad ‘Aayish al-’Utaibi dan juga di sebutkan oleh Dr Yusof Al-Qaradawi di dalam kitabnya Fiqh Awalwiyyat. Ini ada asasnya kerana berdasarkan hadith Nabi SAW
من صام رمضان ثم أتبعه ستاً من شوال فكأنما صام الدهر
Ertinya: “Barangsiapa telah berpuasa Ramadan kemudian diikuti dengan 6 hari dari dari Syawwal (puasa) maka ia adalah seperti (pahala) puasa ad-Dahr (setahun)” (Riwayat Al-Bukhari, no 6502).

6. Kita dapat melihat penggunaan ‘fe’il madhi’ iaitu ‘past tense’ bagi puasa Ramadan, mungkin sahaja boleh membawa makna sesiapa yang belum lengkap puasa Ramadannya perlulah melengkapkan dahulu, kemudian barulah mereka layak bagi mendapat peruntukan pahala sunat Syawwal.

7. Hujjah ulama yang mengharuskannya adalah hadith
” Sesungguhnya amalan itu berdasarkan kepada niat, dan bagi seseorang apa yang diniatkan.” (Riwayat Bukhari, no 1, 1/12)
Ia dilihat agak umum, memang benar apa yang diniatkan adalah penting, tetapi niat mempunyai kaedah dan cara-caranya bagi diterima, contohnya seperti niat solat yang di cadangkan di dalam mazhab Syafie dimulakan semasa lafaz takbiratul ihram di sebut, jika tidak niat itu tidak dikira. (Rujuk Al-umm, hlm 78, cet Baytul Afkar; Rawdhah At-Tolibin, An-Nawawi, cet Baytul Afkar, hlm 103).
Justeru, niat juga ada displinnya dan tidak boleh di buat sesuka hati di dalam ibadah.

Kesimpulan
Kesimpulan dalam yang mengutarakan perbincangan yang terbatas ini :
Elok sangat tidak digabungkan dan elok sangat didahulukan yang wajib (qadha) daripada sunat (syawwal);

Pandangan yang membolehkan saya anggap sebagai rukhsah “keringanan” bagi mereka yang mempunyai kesukaran kerana uzur dan tidak mampu untuk mengasingkannya. Antara ulama yang membolehkan untuk menggabungkannya adalah beberapa ulama dari mazhab Syafie (Mughni al-Muhtaj, 1/602), Assembly of Muslim Jurists in America (AMJA), Syeikh Atiyyah Saqar, panelis fiqh Islam online.net dan beberapa yang lain.

Sekian
_________

*Tambahan

  • (Mazhab Syafie)
Niat puasa enam tidak boleh disekalikan dengan puasa qadha.
Imam as-Syafie di dalam kitab muktabarnya al-Umm ketika mensyarahkan bab 'Innamal a'malu binniat (setiap amalan dengan niat) menyebut hendaklah dibezakan ibadah puasa ramadhan, puasa nazar, puasa kafarat, puasa qadha' dan puasa tatawwu' (sunat).

  •  Imam Jalaluddin as Syuyuti di dalam kitab al Isybah juga berpendapat demikian hendaklah diasingkan puasa Ramadhan, atau nazar atau puasa sunnat.

  • MANAKALA jawapan [Fataawa al-Lajnah al-Daa’imah, 10/383] dalam masalah ini seperti berikut:

"Alhamdulillah. Tidak ada salahnya berpuasa Isnin-Khamis untuk mengqadha' puasa Ramadhan yang tertinggal, dengan syarat puasa dilakukan dengan niat mengqadha puasa...... Mudah-mudahan (moga2) anda mendapat 2 ganjaran sekali, ganjaran melakukan Qadha' dan ganjaran melakukan puasa sunat, dan fadhilat yang Allah berikan itu luas. Walaupun jika anda hanya mendapat ganjaran mengqadha' puasa, ia adalah memadai, kerana mengqadha' puasa adalah lebih mustahak dari melakukan puasa sunat. Akan tetapi jika kamu berniat melakukan puasa sunat dan tidak berniat melakukan qadha', maka kamu masih belum lagi memenuhi tuntutan kefarduan. Maka masih lagi wajib melakukan qadha' puasa Ramadhan. Wa Allahu 'alam dan selawat dan salam kepada Nabi Muhammad saw dan keluarganya."

 
  • AKAN TETAPI, 
jika terdapat masa yang sangat pendek (takut tertinggal peluang menunaikan puasa 6), berbanding dengan puasa qadha' yang banyak; seperti didalam kes wanita yang panjang haidhnya, dibenarkan melakukan puasa enam hari didalam bulan Syawwal, dan kemudian mengqadha'nya sebelum menjelang Ramadhan yang akan datang. Syeikh Ibn Utsaimin mengatakan ini merupakan pandangan yang lebih kepada kebenaran.

[Sharh al-Mumthi' 6/448].

  • Berkenaan persoalan tentang mestikah puasa enam Syawwal itu BERTURUT-TURUT SELEPAS HARI RAYA ATAU TIDAK? 
Jawapan Lajnah Fatwa Tetap Arab Saudi dalam persoalan ini seperti berikut:
“Tidak semestinya dia berpuasa terus selepas hari raya. Bahkan harus untuk dia memulakan sehari atau beberapa hari selepas hari raya. Samada dia hendak berpuasa bersambungan ataupun berpecah-pecah dalam bulan Syawwal. Ia berdasarkan apa yang mudah baginya. Perkara ini luas (pilihannya)”. (Fatawa al-Lajnah al-Daimah li al-Buhuth al-‘Ilmiyyah, 10/391).


 Wallahualam.

Sunday, August 12, 2012

SAIYIDINA ABU BAKAR AS-SIDDIQ R.A.

SAIYIDINA ABU BAKAR AS-SIDDIQ R.A.
 
Nama Saiyidina Abu Bakar Al-Siddiq R.A. adalah tidak asing lagi bagi sekelian ummat Islam, baik dahulu mahupun sekarang. Dialah manusia yang dianggap paling teragung dalam sejarah Islam sesudah Rasulullah S.A.W. Kemuliaan akhlaknya, kemurahan hatinya dalam mengorbankan harta benda dan kekayaannya, kebijaksanaannya dalam menyelesaikan masalah ummat, ketenangannya dalam menghadapi kesukaran, kerendahan hatinya ketika berkuasa serta tuturbahasanya yang lembut lagi menarik adalah sukar dicari bandingannya balk dahulu mahupun sekarang. Dialah tokoh sahabat terbilang yang paling akrab dan paling disayangi oleh Rasulullah S.A.W.
Nama sebenar Saiyidina Abu Bakar Al-Siddiq adalah Abdullah Bin Qahafah. Sebelum Islam, beliau adalah seorang saudagar yang tersangat kaya serta datangnya dan keluarga bangsawan yang sangat dihormati oleh masyarakat Quraisy. Bahkan sebelum memeluk Islam lagi, Abu Bakar telah terkenal sebagai seorang pembesar Quraisy yang tinggi akhlaknya dan tidak pernah minum arak sebagaimana yang lazimnya dilakukan oleh pembesar-pembesar Quraisy yang lain.
Dan segi umur, Saiyidina Abu Bakar R.A. adalah dua tahun lebih muda dan Rasulullah S.A.W. dan telah menjalin persahabatan yang akrab dengan baginda Rasul lama sebelum Rasulullah S.A.W. menjadi Rasul. Beliaulah tokoh sahabat besar yang dianggap paling banyak sekali berkorban harta benda untuk menegakkan agama Islam di samping Nabi Muhammad S.A.W. Kerana besarnya pengorbanan beliau itulah Rasulullah S.A.W. pernah mengatakan bahawa Islam telah tegak di atas harta Siti Khadijah dan pengorbanan Saiyidina Abu Bakar R.A. Adapun gelaran Al-Siddiq yang diberikan kepadanya itu adalah kerana sikapnya yang selalu membenarkan apa sahaja kata-kata mahupun perbuatan Nabi Muhammad S.A.W. Dalam hal ini elok kita petik suatu kisah seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas'ud yang dicenitakan sendiri kepadanya oleh Saiyidina Abu Bakar, tentang bagaimana Saiyidina Abu Bakar R.A. memeluk agama Islam.
Kata Saiyidina Abu Bakar R.A. ketika menceritakan suatu kisah mengenai dirinya kepada Ibnu Mas'ud, "Aku pernah mengunjungi seorang tua di negeri Yaman. Dia rajin membaca kitab-kitab dan mengajar banyak munid. Dia berkata kepadaku:
"Aku kira tuan datang dan Tanah Haram.
"Benar, jawabku.
"Aku kira tuan berbangsa Quraisy?
"Benar, ujarku lagi.
"Dan apa yang aku lihat, tuan dan keluarga Bani Taiyim?
"Benarlah begitu, tambahku selanjutnya.
Orang tua itu terus menyambung, katanya, "Ada satu lagi hal yang hendak aku tanyakan dari tuan, iaitu tentang diri tuan sendiri. Apakah tak keberatan jika aku lihat perutmu?
Maka pada ketika itu aku pun berkata, "Aku keberatan hendak memperlihatkan selagi tuan tidak nyatakan kepadaku perkara yang sebenarnya.
Maka ujar orang tua itu, "Aku sebenarnya melihat dalam ilmuku yang benar bahawa seorang Nabi Allah akan diutus di Tanah Haram. Nabi itu akan dibantu oleh dua onang sahabatnya, yang seorang masih muda dan seorang lagi sudah separoh umur. Sahabatnya yang muda itu berani berjuang dalam segenap lapangan dan menjadi pelindungnya dalam sebarang kesusahan. Sementara yang separoh umur itu putih kulitnya dan berbadan kurus, ada tahi lalat di perutnya dan ada suatu tanda di paha kirinya. Apalah salahnya kalau tuan perlihatkan kepadaku.
Maka sesudah dia berkata itu aku pun membuka pakaianku lalu orang tua itu pun melihatlah tahi lalat hitam di atas bahagian pusatku seraya berkata, "Demi Tuhan yang menguasai Kaabah, tuanlah orangnya itu!
Kemudian orang tua itu pun memberi sedikit nasihat kepadaku. Aku tinggal di Yaman untuk beberapa waktu kenana mengurusi perniagaanku dan sebelum meninggalkan negeri itu aku sekali lagi pergi menemui orang tua tersebut untuk mengucapkan selamat tinggal kepadanya. Kemudian dia lalu bertanya, "Bolehkah tuan menyampaikan beberapa rangkap syairku?
"Boleh sahaja, jawabku.
Setelah itu aku pun membawa pulang syair-syair itu ke Mekah. Setibanya aku di Mekah, para pemuda bergegas datang menemuiku seraya berkata, "Adakah engkau tahu yang sudah terjadi? Maka ujarku pula, "Apakah yang terjadi itu?
Jawab mereka, "Si yatim Abu Talib kini mengaku menjadi Nabi! Kalaulah tidak mengingat engkau hai Abu Bakar, sudah lama kami selesaikan dia. Engkaulah satu-satunya yang kami harapkan untuk menyelesaikannya.
Kemudian aku pun meminta mereka pulang dahulu sementara aku sendiri pergi menemui Muhammad. Setelah menemuinya aku pun mengatakan, "Wahai Muhammad, tuan telah mencemarkan kedudukan keluarga tüan dan aku mendapat tahu tuan terang-terang telah menyeleweng dan kepercayaan nenek moyang kita.
Maka ujar baginda, "Bahawa aku adalah Pesuruh Allah yang diutuskan untukmu dan untuk sekelian ummat!
Aku pun bertanya kepada baginda, "Apa buktinya?
Jawabnya, "Orang tua yang engkau temui di Yaman tempoh hari.
Aku menambah lagi, "Orang tua yang mana satukah yang tuan maksudkan kerana ramai orang tua yang aku temui di Yaman itu?
Baginda menyambung, "Orang tua yang mengirimkan untaian syair kepada engkau!
Aku terkejut mendengarkannya lalu bertanya, "Siapakah yang telah memberitahu tuan, wahai sahabatku?
Maka ujar baginda, "Malaikat yang pernah menemui Nabi-nabi sebelumku.
Akhirnya aku benkata, "Hulurkan tangan tuan, bahawa dengan sesungguhnya aku naik saksi tiada Tuhan yang kusembah melainkan Allah, dan tuan (Muhammad) sebenarnya Pesuruh Allah.
Demikianlah kisah indah yang meniwayatkan bagaimana Islamnya Saiyidina Abu Bakan Al-Siddiq. Dan memanglah menurut riwayat beliau merupakan lelaki yang pertama yang beriman kepada Rasulullah S.A.W.
Keislaman Saiyidina Abu Bakan Al-Siddiq R.A. telah membawa penganuh besar di kalangan kaum bangsawan Quraisy kerana dari pengaruh keislamannya itulah maka beberapa orang pemuda   bangsawan Quraisy seperti Saiyidina Uthman Bin Affan, Abdul Rahman Bin Auf, dan Saad Bin Waqqas menuruti jejak langkahnya. Semenjak beliau memeluk Islam, Saiyidina Abu Bakan R.A. telah menjadi pembela Islam yang paling utama serta seorang sahabat yang paling akrab serta paling dicintai oleh Rasulullah S.A.W. Sebagai memperlihatkan kecintaan baginda terhadap Saiyidina Abu Bakar R.A., dapat kita ketahui dan satu dialog yang terjadi antara baginda Rasul dengan Amru Bin Al As. Amru seorang sahabat Rasulullah S.A.W. pernah suatu han menanyakan Rasul, "Siapakah di antara manusia yang paling tuan sayangi? Baginda menjawab, "Siti Aisyah, dan kalau laki-laki adalah bapanya.
Selain danipada itu Saiyidina Abu Bakar Al-Siddiq R.A. adalah seonang sahabat yang terkenal kerana keteguhan imannya, cendas akal, tinggi akhlak, lemah lembut dan penyantun. Rasulullah S.A.W. pernah menyanjungi sahabatnya itu dengan sabdanya, "Jika ditimbang iman Abu Bakan Al-Siddiq dengan iman sekelian ummat maka berat lagi iman Abu Bakan. Demikian teguhnya iman Saiyidina Abu Bakan R.A. demi apakala kita memperhatikan pengertian yang terkandung pada sabda Rasulullah S.A.W. mengenai dirinya itu. Gelaran AlSiddiq yang dibenikan orang terhadap diri Saiyidina Abu Bakan R.A. adalah lantaran memandang sikap serta pendiriannya yang teguh dalam membenarkan serta membela din Rasulullah S.A.W. Andainya sekelian ummat manusia akan mendustakan Muhammad S.A.W. Abu Bakar R.A. akan pasti pula tampil dengan penuh keyakinan untuk membelanya.
Tidak beberapa lama setelah memeluk agama Islam, Saiyidma Abu Bakar yang terkenal sebagai saudagar yang kaya itu telah meninggalkan perdagangannya dan meninggalkan semua usaha peribadi lain-lainnya lalu menyerahkan segenap kekayaan dan jiwa raganya untuk melakukan penjuangan menegakkan Islam bersama Nabi Muhammad S.A.W. sehingga oleh kerana kegiatannya maka Agama Islam mendapat kemegahan dengan Islamnya beberapa pemuda Quraisy yang lain seperti yang telah disebutkan itu. Beliau telah mengorbankan seluruh hanta bendanya untuk menebus orang-orang yang ditawan, orang-orang yang ditangkap atau disiksa. Selain danpada itu beliau juga telah membeli hamba-hamba yang kemudian dimerdekakannya. Salah seorang hamba yang dibelinya lalu kemudian dibebaskan yang paling terkenal dalam sejarah ialah Bilal Bin Rabah.
Tatkala Nabi Muhammad selesai melakukan Isra' dan Mikraj segolongan orang yang kurang mempercayai apa yang telah dikhabarkan Rasulullah S.A.W. telah pergi menemui Saiyidina Abu Bakan R.A. untuk mendengarkan apa pendapatnya tentang dakwaan Muhammad S.A.W.  itu. Tujuan kedatangan mereka mendapatkan Abu Bakar R.A. tidak lain dengan prasangka tentunya Abu Bakar R.A. kali ini akan mendustakan kisah yang tidak masuk akal pada fikiran mereka itu. Setelah pertanyaan itu disampaikan kepada Abu Bakar R.A. lalu beliau pun berkata, "Adakah Muhammad berkata begitu? Sahut mereka, "Benar! Maka ujar Saiyidina Abu Bakar R.A. "Jika Muhammad berkata begitu maka sungguh benarlah apa yang diceritakan itu. Lalu mereka pun terus menyambung, "Engkau percaya hai Abu Bakar bahawa Muhammad sampai ke tanah Syam lebih sebulan perjalanan pulang, di malam semalam tadi? Maka sahut Abu Bakan sungguh-sungguh, "Benar! Aku percaya! Malah lebih dan itu aku percaya kepadanya. Aku percaya akan berita dan langit diberitakannya baik pada waktu slang mahupun di waktu malam! Demikian hebatnya sambutan sahabat yang paling utama itu. Kerana tegas dan teguhnya iman beliau terhadap agama yang dibawa oleh Muhammad dan terhadap apa yang dikhabarkan oleh baginda maka beliau telah diberi oleh Rasulullah S.A.W. dengan gelaran Al-Siddiq, entinya yang benar.
Dan memanglah tidak menghairankan sekali sikap Abu Bakar itu. Beliau telah kenal akan Muhammad S.A.W. bukan sehari dua, melainkan sudah boleh dikatakan seumur manusia. Beliau tahu bahawa sahabatnya itu benkata benar, tak pernah bohong; orang amin. Mustahil baginda akan khianat kepada pengikutnya yang pencaya kepadanya. Beliau mengimani sahabatnya itu Pesunuh Allah Yang Maha Kuasa, menenima wahyu danipada Tuhannya. Beliau sudah bertahun-tahun mengikutkan petunjuk yang diwahyukan oleh Allah kepada sahabatnya itu maka telah teguhlah iman dalam hatinya.
Tatkala keadaan kekejaman orang-orang musynikin Quraisy tenhadap kaum Muslimin yang sedikit jumlahnya di Mekah semakin hebat dan membahayakan, Nabi Muhammad S.A.W. telah mengadakan permusyuaratan di numah Saiyidina Abu Bakan R.A. untuk mencani jalan keluar danipada kesulitan yang sedang dihadapi oleh pihak kaum Muslimin. Ketika itulah Rasulullah S.A.W. menjelaskan kepada Saiyidina Abu Bakan R.A. bahawa Allah S.W.T. telah memerintahkan baginda supaya melakukan hijrah ke Madinah serta meminta Saiyidina Abu Bakar R.A. supaya menemaninya dalam peristiwa hijrah tersebut. Dengan perasaan gembira tanpa sedikit kebimbanganpun Saiyidina Abu Bakar R.A. menyambut penmintaan Rasulullah S.A.W.
Dari pintu belakang rumah Saiyidina Abu Bakar R.A. Rasulullah S.A.W. bersama-sama Saiyidina Abu Bakar menuju ke Gunung Tsaur dan bersembunyi di gua yang dibeni nama Gua Tsaur. Pada saat suasana amat kritis, Saiyidina Abu Bakar R.A. diserang rasa kegelisahan dan cemas kerana khuatir kalau-kalau musuh dapat mengetahui di mana Rasulullah sedang bensembunyi, maka pada saat itu turun ayat suci Al Quran dari Surah Taubah yang isinya memuji Saiyidina Abu Bakan Al-Siddiq, sebagai orang kedua sesudah Nabi s,a.w. dalam Gua Tsaur. Dalam pada itu Rasulullah S.A.W. pun mengerti akan situasi dan kegelisahan sahabatnya itu yang oleh kerananya Rasul benkata, "Apakah yang menggelisahkanmu, bukankah Allah menemani kita?
Kemudian Rasulullah S.A.W., diriwayatkan berkata selanjutnya untuk menghilangkan kebimbangan Saiyidina Abu Bakan, "Kiranya mereka masuk juga ke dalam gua ini kita masih dapat melepaskan diri dari pintu belakang itu, ujar Rasul sambil menunjukkan ke belakang mereka. Saiyidina Abu Bakar R.A. pun menoleh ke belakang. Betapa terkejutnya beliau bila dilihatnya pintu belakang yang ditunjuk oleh Rasul itu, padahal pintu tersebut tadinya tidak ada sama sekali. Sebenarnya kebimbangan Abu Bakar R.A. tatkala di dalam gua itu bukanlah kerana takutkan nyawanya akan diragut oleh pihak musuh tetapi yang lebih dibimbangkannya ialah keselamatan jiwa baginda Rasul. Beliau pennah berkata, "Yang saya bimbangkan bukanlah mengenai diri saya sendiri, kalau saya terbunuh, yang tewas hanyalah seorang manusia biasa. Tapi andaikata tuan sendiri dapat dibunuhnya maka yang akan hancur ialah satu cita-cita yang suci murni. Yang akan runtuh ialah keadilan dan yang akan tegak pula ialah kezaliman.
Ucapan antara dua orang sahabat tatkala dalam gua itu ada tersebut dalam Al Quran dalam Surah Al Taubah ayat 40:
 إِلَّا تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَى وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ (40)
"Kalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) ketika dia diusir oleh orang-orang kafir (dan kampung halamannya), dalam keadaan berdua orang sahaja di dalam suatu gua, Di kala itu dia (Muhammad) berkata kepada sahabat karibnya (Abu Bakar): Jangan engkau berdukacita; sesungguhnya Tuhan bensama kita. Tuhan menurunkan ketenanganNya kepadanya, dan dikuatkannya dengan tentera yang tidak kamu lihat. Dan Tuhan menjadikan perkataan orang yang kafir itu paling rendah dan perkataan Tuhan itu yang amat tinggi. Dan Tuhan Maha Kuasa dan Bijaksana.
Demikian satu lagi keistimewaan Saiyidina Abu Bakar AlSiddiq sebagai seorang sahabat yang sama-sama mengalami kesukaran dan kepahitan bersama-sama Rasulullah dalam menyampaikan seruan Islam. Saiyidina Abu Bakar R.A. tidak bercerai jauh dengan baginda Rasul sepanjang hidupnya dan menyertai semua peperangan yang dihadapi oleh baginda. Beliau bukan sahaja berjuang menegakkan Agama Islam dengan segenap jiwa raganya bahkan juga dengan harta kekayaannya. Sungguh beliaulah yang paling banyak sekali berkorban harta untuk menegakkan Agama Islam. Bahkan seluruh kekayaannya telah habis dipergunakannya untuk kepentingan penjuangan menegakkan kalimah Allah. Di kalangan para sahabat beliaulah tergolong onang yang paling murah hati dan dermawan sekali.
Dalam Perang Tabuk misalnya, Rasulullah S.A.W. telah meminta kepada sekelian kaum Muslimin agar mengorbankan hartanya pada jalan Allah. Tiba-tiba datanglah Saiyidina Abu Bakan R.A. membawa seluruh harta bendanya lalu meletakkannya di antara dua tangan baginda Rasul. Melihat banyaknya harta yang dibawa oleh Saiyidina Abu Bakar R.A., bagi tujuan jihad itu maka Rasulullah S.A.W. menjadi terkejut lalu berkata kepadanya:
"Hai sahabatku yang budiman, kalau sudah semua hanta bendamu kau korbankan apa lagi yang akan engkau tinggalkan buat anak-anak dan isterimu?
Pertanyaan Rasulullah S.A.W. itu dijawab oleh Saiyidina Abu Bakar Al-Siddiq dengan tenang sambil tersenyum, ujarnya. "Saya tinggalkan buat mereka Allah dan RasulNya.
Allah telah merakamkan kedermawanan Abu Bakar dalam ayat 18-21 surah al-Lail.
الَّذِي يُؤْتِي مَالَهُ يَتَزَكَّى (18) وَمَا لِأَحَدٍ عِنْدَهُ مِنْ نِعْمَةٍ تُجْزَى (19) إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِ الْأَعْلَى (20) وَلَسَوْفَ يَرْضَى (21)
"Yang mendermakan hartanya dengan tujuan membersihkan dirinya dan harta bendanya, Sedang dia tidak menanggung budi sesiapapun, yang patut di balas, Hanyalah mengharapkan keredaan Tuhannya Yang Maha Tinggi; Dan demi sesungguhnya, dia tetap akan berpuas hati (pada hari akhirat, dengan mendapat segala yang diharapkannya)". ayat 18-21 Surah al-Lail.
 
Demikianlah kehebatan jiwa Saiyidina Abu Bakar AlSiddiq, suatu contoh kemurahan hati yang memang tidak dijumpai bandingannya di dunia. Memandangkan besarnya pengorbanan beliau terhadap Islam maka wajarlah kalau Rasulullah bersabda bahawa tegaknya Agama Islam itu adalah lantaran hanta benda Siti Khadijah dan juga Saiyidina Abu Bakan Al-Siddiq. Tepatlah juga tatkala baginda bersabda bahawa kiranya iman seluruh ummat ditimbang bersama iman Saiyidina Abu Bakan R.A. maka berat lagi iman Saiyidina Abu Bakan R.A. Beliau memang manusia luar biasa kebesarannya yang telah ditakdirkan oleh Allah S.W.T. untuk menjadi teman akrab Rasulullah s.a.w
Pada suatu ketika di saat Rasulullah membaca khutbah yang antara lain menyatakan bahawa kepada seseorang hamba Allah ditawarkan untuk memilih dunia dan memilih ganjaran yang tersedia di sisi Allah, dan hamba Allah tersebut tidak akan memilih dunia, melainkan memilih apa yang tersedia di sisi Tuhan... Maka ketika meñdengar khutbah Nabi demikian itu Saiyidina Abu Bakar R.A. lalu menangis tersedu-sedu, kenana sedih dan terharu sebab beliau mendengar dan mengerti bahawa yang dimaksud dalam isi khutbah tersebut ialah bahawa umur kehidupan Rasul di dunia ini sudah hampir berakhir. Demikian kelebihan Saiyidina Abu Bakar R.A. di- banding dengan para sahabat yang lain kerana beliaulah yang mengetahui bahawa umur Rasul hampir dekat.
Keunggulan beliau dapat dilihat dengan jelas selepas wafatnya Rasulullah S.A.W. di kala mana ummat Islam hampir-hampir menjadi panik serta tidak percaya kepada kewafatannya. Bahkan sahabat besar Saiyidina Umar Al Khattab sendiri telah diselubungi kekacauan fikinan dan tampil ke muka umum sambil mencabar dan mengugut sesiapa sahaja yang berani mengatakan baginda telah wafat. Ujan Umar n.a., "Rasulullah tidak wafat, dia hanya pergi menghadap Allah sahaja seperti perginya Nabi Musa yang telah menghilangkan diri dan kaumnya selama empat puluh hari, kemudian pulang semula kepada kaumnya setelah diheboh-hebohkan wafatnya.
Ketika kegawatan itu berlaku Saiyidina Abu Bakar sedang berada di suatu kampung Al-Sunnah. Tatkala berita kewafatan Rasulullah itu sampai kepadanya, beliau dengan segera menuju ke Madinah. Di sana beliau dapati ramai orang sedang benkumpul mendengarkan pidato Saiyidina Umar Al Khattab tadi. Tanpa lengah-lengah lagi Saiyidina Abu Bakar terus ke rumah puterinya Siti Aisyah dan di sanalah beliau dapati mayat Rasulullah S.A.W. terbujur di satu sudut rumah. Beliau lantas membuka wajah Rasulullah dan mengucupkannya, sambil berkata, "Wahai, betapa cantiknya engkau ketika hidup dan betapa cantiknya engkau ketika mati! Kemudian beliau pun keluar mendapatkan orang ramai yang sedang dalam panik itu lalu berkata dengan nada yang keras:
 أَيّهَا النّاسُ إنّهُ مَنْ كَانَ يَعْبُدُ مُحَمّدًا فَإِنّ مُحَمّدًا قَدْ مَاتَ وَمَنْ كَانَ يَعْبُدُ اللّهَ فَإِنّ اللّهَ حَيّ لَا يَمُوتُ .
"Wahai kaum Muslimin! Barangsiapa yang menyembah Muhammad, maka Muhammad telah mati. Tetapi barangsiapa yang menyembah Allah maka Allah selama-lamanya hidup tidak mati.
Seraya menyambung membacakan sepotong ayat dan Al Qun'an:
وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَى عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ (144)
"Muhammad itu tidak lebih dari seorang rasul seperti rasul-rasul yang terdahulu darinya. Jika ia mati atau terbunuh patutkah kamu berundur ke belakang. Sesiapa yang surut ke belakang, dia tidak akan membahayai Allah sedikit pun dan sesungguhnya Allah akan memberi ganjaran kepada orang-orang yang bersyukur. Ali Imran : 114
Sejurus sahaja mendengar ayat itu, Saiyidina Umar Al Khattab pun terus rebah hingga barulah beliau dan orang ramai Islam yang telah mendengar pidatonya tadi mendapat kepastian bahawa Rasulullah sudah wafat. Kaum Muslimin tentunya telah pernah dengar ayat ini sebelumnya, kerana ayat itu telah turun semasa peperangan Uhud, ketika Rasulullah S.A.W. telah diberitakan mati terkorban dan menyebabkan banyak pejuang-pejuang Islam berundur ke Madinah. Tetapi mereka tidaklah memahami maksud ayat ini seperti yang difahami oleh Saiyidina Abu Bakar R.A. Ini jelas membuktikan kecerdasan Saiyidina Abu Bakar Al-Siddiq dalam memahami Islam.
Ketika Rasulullah S.A.W. wafat, baginda memang tidak meninggalkan pesan tentang siapa yang patut menggantikan baginda sebagai Khalifah ummat Islam. Tetapi setelah lama berbincang kaum Muslimin dengan suara ramai memilih Saiyidma Abu Bakan Al-Siddiq sebagai Khalifah setelah namanya itu dicalunkan oleh Saiyidina Umar Ibnul Khattab R.A. Pemilihan ini tentulah tepat sekali kenana pada pandangan kaum Muslimin memang beliaulah yang paling layak sekali memegang kedudukan itu memandangkan kelebihan-kelebihannya dari para sahabat yang lain. Apatah lagi beliaulah yang pernah ditunjuk oleh baginda Rasul semasa hayatnya untuk menggantikan baginda sebagai imam sembahyang tatkala baginda sedang uzur.
Setelah dipilih oleh sebahagian besar ummat ketika itu Saiyidina Abu Bakar Al-Siddiq pun memberikan ucapannya yang tenkenal yang antana lainnya baginda berkata:
 أَيّهَا النّاسُ فَإِنّي قَدْ وُلّيت عَلَيْكُمْ وَلَسْت بِخَيْرِكُمْ فَإِنْ أَحْسَنْت فَأَعِينُونِي ؛ وَإِنْ أَسَأْت فَقَوّمُونِي ؛ الصّدْقُ أَمَانَةٌ وَالْكَذِبُ خِيَانَةٌ وَالضّعِيفُ فِيكُمْ قَوِيّ عِنْدِي حَتّى أُرِيحَ عَلَيْهِ حَقّهُ إنْ شَاءَ اللّهُ وَالْقَوِيّ فِيكُمْ ضَعِيفٌ عِنْدِي حَتّى آخُذَ الْحَقّ مِنْهُ إنْ شَاءَ اللّهُ لَا يَدَعُ قَوْمٌ الْجِهَادَ فِي سَبِيلِ اللّهِ إلّا ضَرَبَهُمْ اللّهُ بِالذّلّ وَلَا تَشِيعُ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطّ إلّا عَمّهُمْ اللّهُ بِالْبَلَاءِ أَطِيعُونِي مَا أَطَعْت اللّهَ وَرَسُولَهُ فَإِذَا عَصَيْتُ اللّهَ وَرَسُولَهُ فَلَا طَاعَةَ لِي عَلَيْكُمْ .
"Wahai sekelian ummat! Aku telah dipilih menjadi pemimpin kamu padahal aku ini bukanlah orang yang terbaik di antara kamu. Sebab itu jika pemenintahanku baik, maka sokonglah, tetapi jika tiada baik, maka perbaikilah. Orang yang lemah di antara kamu adalah kuat pada sisiku hingga aku harus menolongnya mendapatkan haknya, sedang orang yang kuat di antara kamu adalah lemah pada sisiku, hingga aku harus mengambil hak orang lain yang berada di sisi nya, untuk dikembalikan kepada yang berhak semula. Patuhilah kepadaku selama aku patuh kepada Allah dan RasulNya. Akan tetapi jika aku mendurhakai Allah, maka kamu sekelian tak harus lagi patuh kepadaku.
Aku dipilih untuk memimpin urusan ini padahal aku enggan menerimanya. Demi Allah aku ingin benar kalau ada di antaramu orang yang cekap untuk urusan ini. Ketahuilah jika kamu meminta kepadaku agar aku berbuat sebagai yang telah dilakukan oleh Rasulullah S.A.W. sungguh aku tidak dapat memperkenankannya, Rasulullah adalah seorang hamba Allah yang dapat kurnia wahyu dari Tuhan, kerana itu baginda terpelihara dari kesalahan-kesalahan, sedang aku ini hanyalah manusia biasa yang tidak ada kelebihannya dari seorangpun juga di antara kamu.
Ini adalah satu pembaharuan dalam pemerintahan yang belum pernah dikenali oleh rakyat jelata kerajaan Rome dan Parsi yang memerintah dunia barat dan timur ketika itu. Baginda telah mematuhi manifesto politiknya. Baginda hidup seperti rakyat biasa dan sangat tidak suka didewa-dewakan. Adalah diriwayatkan bahawa pada satu masa ada orang memanggilnya, "Ya Khalifah Allah! Baginda dengan segena memintas cakap orang itu dengan katanya:
"Saya bukan Khalifah Allah, saya hanya Khalifah RasulNya!
Adalah diriwayatkan bahawa pada keesokan harinya iaitu sehari setelah baginda terpilih sebagai Khalifah, Saiyidina Abu Bakan R.A. kelihatan membawa barang perniagaannya ke pasar. Beberapa orang yang melihat itu lalu mendekati baginda, di antananya Abu Ubaidah Bin Janrah. Sahabat besar itu mendekati baginda seraya berkata, "Urusan Khalifah itu tidak boleh dicampuri dengan berniaga! Lalu Abu Bakar R.A. bertanya, "Jadi dengan apakah aku hidup, dan bagaimana aku membelanjai rumah tanggaku? Demikian sedihnya nasib yang menimpa Saiyidina Abu Bakar R.A. sebab walaupun kedudukannya sebagai Kepala Negara namun belum ada lagi ketetapan untuk bagi seseorang kepala pemenintah Islam memperolehi gaji dari hanta kerajaan.
Keadaan ini mendapat perhatian dari para sahabat lalu mereka menentukan tunjangan secukupnya buat baginda dan buat keluarga baginda yang diambil dari Baitul Mal. Kemudian itu baharulah Khalifah Abu Bakar meninggalkan usaha penniagaannya kerana hendak memusatkan selunuh tenaganya untuk mengembangkan agama Islam dan menjalankan tanggungjawabnya sebagai seorang Khalifah. Semasa hertugas sebagai Khalifah ummat Islam baginda hanya menerima penuntukan sebanyak enam ribu dirham sahaja setahun iaitu kira-kira lebih kurang 1,200 dolar sahaja setahun. Peruntukan itu tidak dibelanjakannya untuk keperluan dirinya malahan sebelum wafatnya baginda telah memenintahkan supaya pendapatannya itu diserahkan kembali kepada Baitul Mal.
Kebijaksanaan Abu Bakar R.A. juga ternyata dalam polisinya menyamakan pemberian elaun kepada orang-orang yang berhak agar mereka tidak dipisahkan oleh jurang-jurang perbezaan yang jauh agar tidak lahir satu golongan yang mendapat kedudukan yang lebih istimewa dan golongan-golongan yang lain. Sedangkan baginda sendiri hanya mengambil sekadar keperluan-keperluan asasi buat diri dan keluarganya.
Sebelum baginda wafat, kepada Saiyidina Umar Al Khattab baginda telah mewasiatkan agar jangan menghiraukan jenazahnya nanti bila baginda pulang ke rahmatullah, melainkan haruslah dia segera mengirim bala tentera ke Iraq untuk membantu Al Muthanna yang sedang bertempur di Iraq itu. Saiyidina Abu Bakar R.A. tidak lupa mengingatkan Saiyidma Umar R.A. apa yang dikerjakannya di waktu Rasulullah wafat dan bagaimana cintanya kepada Rasul dan perhatiannya kepada jenazah baginda yang suci itu tidak mengabaikannya dan melaksanakan kewajipan bianpun yang demikian itu amat berat bagi jiwanya. Dengarlah antara lain kata-katanya kepada Umar Ibnul Khattab R.A.:
"Dengarlah hai Umar! Apa yang akan kukatakan ini dan laksanakanlah. Aku mengharap akan kembali ke hadrat Allah hari ini sebab itu sebelum matahani terbit pada esok hari engkau hendaknya telah mengirim bala hantuan kepada Al Muthanna. Janganlah hendaknya sesuatu bencana bagaimana pun besannya dapat melupakan kamu dan urusan agama dan wasiat Tuhan. Engkau telah melihat apa yang telah ku lakukan tatkala Rasulullah wafat sedang wafatnya Rasulullah itu adalah satu bencana yang belum pernah manusia ditimpa bencana yang sebesar itu. Demi Allah, andaikata di waktu itu aku melalaikan perintah Allah dan RasulNya, tentu kita telah jatuh dan mendapat siksaan Allah, dan pasti pula kota Madinah mi telah jadi lautan api.
Dalam masa pemerintahannya yang singkat Saiyidina Abu Bakan Al-Siddiq yang memerintah hanya dalam masa dua tahun sahaja itu telah meletakkan asas pembangunan sebuah pemenintahan Islam yang teguh dan kuat setelah berjaya mengatasi berbagai macam masalah dalam negeri dengan segala kebijaksanaan dan kewibawaannya. Baginda telah memenuhi segenap janji-janjinya dan dalam masa dua tahun pemerintahannya itu telah terbentuk rantai sejarah Islam yang merupakan lembaran-lembaran yang abadi.
Sungguh kehidupan Saiyidina Abu Bakar Al-Siddiq adalah penuh dengan ibarat, penuh dengan nasihat, penuh dengan ajaran serta kenang-kenangan yang indah mulia. Selama dua tahun pemerintahannya itu baginda telah berjaya menyusun tiang-tiang pokok dan kekuatan Islam. Baginda telah membangunkan kekuatan-kekuatan yang penting bagi memelihara kepercayaan kaum Muslimin dan bagi memelihara keagungan Agama Islam. Bahkan baginda telah mengakhiri niwayat pemerintahan yang dipimpinnya dengan menundukkan sebahagian daripada negeri Syam dan sebahagian danpada negeri Iraq, lalu pulang ke rahmatullah dengan dada yang lapang, ketika umur baginda menginjak 63 tahun. Baginda dikebumikan di samping makam Rasulullah S.A.W. di Masjid Madinah. Semoga niwayat serta penjuangan baginda menjadi contoh ibadat yang murni bagi sekelian kaum Muslimin.